Langsung ke konten utama

Aksi dan Air Mata untuk Palestina

Hampir ada di setiap tahun momen di mana Palestina beperang dengan Israel. Sejak saya duduk di bangku sekolah, keprihatinan dan solidaritas turun di jalan untuk aksi membela Palestina. Bersama teman seperjuangan, kami mendatangi markas Persatuan Bangsa Bangsa (PBB), Duta Besar Amerika yang merupakan sekutu dari Israel, memboikot barang-barang yang terafiliasi dengan Israel.

Tidak hanya aksi di jalanan, donasi kemanusiaan yang kami beri nama one man one dollar, sudah banyak terkumpul di kantong-kantong lembaga kemanusiaan yang siap menyalurkannya langsung ke Palestina. Semboyan sunduquna, juyubuna yang artinya kas kami adalah dari kantong-kantong kami, memotivasi kami yang meski tidak punya uang lebih, bisa memaksakan diri untuk mengeluarkan uang demi Palestina tercinta.

Selang beberapa tahun lamanya, saya coba melihat kembali konflik Palestina dan Israel melalui dua sudut pandang, baik dari sisi Palestina dan sisi Israel. Ternyata faktanya mengagetkan, ini bukan hanya soal agama dan perebutan tanah air, namun ada masalah politik, perseteruan kelompok Hamas yang melakukan perlawanan terhadap Israel. Wah, kompleks juga, saya kira ini persoalan perang agama, ternyata lebih dari itu.

Di samping ada banyak oknum yang memanfaatkan perang Palestina dan Israel ini untuk kepentingan tertentu dan meraih simpati umat Islam. Uang yang semestinya untuk rakyat Palestina, diambil untuk kepentingan individu dan organisasi. Partai Islam dan sekarang Partai nasionalis pun meraih simpati umat dengan seringnya melakukan aksi bela Palestina di Monas dan bundaran HI.

Terlepas dari itu semua kita sepakat bahwa konflik Palestina dan Israel adalah masalah kemanusiaan dan kita sebisa mungkin membantu dengan cara yang lebih konkret. Meski yang lebih banyak dilakukan adalah aksi solidaritas Palestina dan penggalangan dana. Menurut saya itu sudah cukup konkret.

Kita juga belajar lagi mengenai asal muasal perang antar negara tersebut, mulai dari sejarahnya, mengenal lebih dekat kelompok Hamas dan Fatah, bagaimana kebijakan Israel, paham Zionisme dan lain sebagainya. Ini semua agar kita bisa melihat dengan lebih bijak dan netral melihat konflik Palestina dan Israel secara kompleks dan komperhensif.

Jangan juga kita melupakan konflik internal dan masalah kemanusiaan negara kita sendiri yang mungkin butuh perhatian lebih. Kita perlu waspada terhadap oknum yang menunggangi konflik ini dengan kepentingan tertentu.

Selain itu kondisi emosi kita yang tidak stabil karena kemarahan melihat pembantaian anak-anak dan warga sipil yang tidak bersalah ini membuat kita bisa diarahkan dan dikendalikan oleh oknum yang punya kepentingan tertentu.

Kita tetap simpati terhadap Palestina sambil kita pun tetap punya rasa simpati terhadap kondisi Indonesia, jangan mau dikendalikan oleh kepentingan politik apapun dan jangan sampai kepedulian kita dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...