Langsung ke konten utama

Berbuat Baik dan Lupakanlah

Melakukan perbuatan baik adalah tindakan mulia yang membuat pelakunya disebut sebagai orang baik. Orang baik yang melakukan perbuatan baik biasanya punya motivasi atau alasan yang mendasari tindakan baik yang dilakukannya. Ada yang melakukan kebaikan agar dibalas kebaikannya oleh orang lain dan balasan surga, namun begitu jarang yang melakukan kebaikan tanpa keinginan dibalas bahkan langsung melupakannya.

Mengharapkan timbal balik kebaikan yang telah dia lakukan sebenarnya hal yang wajar. Tidak bisa kita melupakan begitu saja, sebab kita masih ingat dan punya harapan ada respon kebaikan yang minimal sama dengan kebaikan yang telah dia berikan kepada orang lain. Namun ajaibnya kehidupan kadang tidak sejalan dengan apa yang tidak kita inginkan, lebih banyak hal yang tidak terduga yang datang menghampiri.

Untuk itu menempatkan kebaikan sebagai tindakan langsung dilupakan atau tidak berekspektasi lebih mengenai balasan yang diberikan dari orang lain. Hal tersebut perlu latihan agar semua kebaikan yang kita lakukan ditujukan untuk kebaikan itu sendiri. Kebaikan yang dilakukan untuk melatih diri agar tidak egois dan menghentikan ekspektasi dengan melupakannya.

Sekali lagi benar bahwa kita tidak bisa benar-benar melupakannya, yang sedang kita lakukan adalah tidak melekatkan kebaikan yang telah kita lakukan untuk dibalas oleh orang lain ataupun di surga nanti. Abadikan kebaikan kita dengan melupakannya dan kalau pun tidak bisa melakukan kebaikan jangan sampai merugikan orang lain juga lingkungan.

Berbuat baik dan lupakanlah adalah pengingat diri agar kita bisa berlatih melakukan kebaikan dengan tulus dan penuh cinta. Kita tidak bisa mengendalikan dan memastikan orang lain untuk melakukan atau membalas kebaikan yang kita inginkan, yang bisa lakukan adalah mengendalikan dan memastikan diri kita ketika melakukan kebaikan tidak lagi terlalu berharap untuk dibalas.

Latihan ini memang cukup sulit, namun demi kebaikan dan ketulusan, kita bisa belajar perlahan untuk melakukan kebaikan kepada orang lain. Kalau mau aman dari penyesalan dan dibalas keburukan, sebaiknya kita memilah dan memilih orang yang akan kita berikan kebaikan. Tidak semua orang kita berikan kebaikan, cukup mereka yang bisa merespon kebaikan kita dengan sopan dan kepedulian bersama. Ini semua untuk menjaga diri kita agar lebih hati-hati dan tidak merugikan diri kita sendiri.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...