Langsung ke konten utama

After Zen Class 2023

Sejak tahun 2016 saya mengikuti kelas zen di puncak bogor dan di tahun 2017 saya mendapatkan pecahnya. Ternyata dampak zen mampu menciptakan ledakan dalam diri saya, meskipun latihannya sederhana yang lebih banyak diskusi ringan, duduk hening dan melakukan beberapa pengamatan terhadap momen ketika latihan.

Saking takjubnya saya dengan zen, saya sempat penasaran dengan beberapa literasi mengenai zen yang katanya berasal dari pertemuan antara buddisme dan taoisme. Tidak seperti latihan meditasi yang pernah saya ikuti sebelumnya, zen menawarkan keheningan dengan caranya sendiri yang saking sederhananya membuat saya terheran-heran, lho kok bisa?

Di samping saya takjub dengan zen, saya selalu menemukan banyak pengalaman baru di setiap tahun saat diadakan kelas zen dan pengalaman ini melampaui kata-kata, bisa dirasakan dan dampaknya bisa saya lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Latihan mindfullness yang dilatih dalam kelas zen membuat saya sadar dengan segala tindakan, konsekuensi dan tanggung jawab. Pengalaman ini yang saya bawa di dalam rumah tangga, pekerjaan di pabrik dan pergaulan. Saya pikir segala kesuksesan latihan di dalam kelas disebut berdampak ketika pengaruhnya menggerakan diri kita untuk mengamalkannya di setiap kesempatan dalam kehidupan.

Segala tindakan kita di dunia ini menciptakan drama dan dalam drama kehidupan tersebut kita adalah aktornya yang bertanggung jawab penuh atas permainan drama yang sudah kita gelar dalam lakon yang dipilih sendiri. Kalau ada yang muak dengan drama kehidupan ini, sebenarnya dia sedang menyangkal peran serta dirinya yang menciptakan drama itu sendiri. Maka lebuh baik kita menyadari setiap konsekuensi dan bertanggung jawab yang hadir dalam drama kehidupan yang telah kita ciptakan sendiri.

Kelas zen tahun 2023 ini ada yang beda dengan adanya menjaga pola makan yakni panitia menyediakan menu makan vegetarian selama 5 hari tanpa putus. Penderitaan kami yang mengikuti kelas zen kali ini adalah tidak bisa makan enak dan saat buka puasa vegetarian di jam 12.00, itu pun disarankan untuk tidak makan daging atau yang membuat kinerja lambung terlalu berat.

Tradisi minum teh di setiap kelas zen pun menjadi rangkaian kegiatan yang benar-benar meluluh lantahkan pikiran perasaan kita menjadi tidak karuan. Kesyahduan diri kita dalam menerima cinta yang tersaji dalam tuangan teh, dimulai dengan menghirup harumnya teh, meminumnya perlahan dan merasakan tangisan yang tidak bisa dijelaskan sebabnya apa. Disempurnakan dengan berpelukan antara kami dengan ucapan maaf dan terima kasih satu dengan yang lainnya.

Kelas zen selalu memberikan pengalaman baru dan berbeda setiap tahunnya. Kesederhanaan dan ledakan dalam diri yang dialami di dalam zen menjadi pengingat dalam diri saya untuk membawanya pada pengalamannya di kehidupan sehari-hari.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...