Langsung ke konten utama

Percaya atau Mencari?

Banyak orang percaya, tapi mereka bukan pencari. Mereka merasa cukup dengan kepercayaannya, tanpa perlu bertanya lebih jauh. Ini adalah pilihan yang nyaman, tentu saja. Percaya berarti tidak perlu repot mencari, tidak perlu repot berpikir lebih dalam. Percaya adalah jalan pintas untuk menghindari pencarian yang sering kali penuh ketidakpastian dan keraguan.

Kenapa begitu? Karena orang yang percaya sering kali ingin dibebaskan dari tanggung jawab mencari. Mereka ingin diselamatkan, ingin ada yang datang dan membereskan semuanya. Mereka berharap ada mesias, juru selamat yang akan mengurus semua persoalan hidup mereka. Tapi masalahnya, jika ada orang yang makan untukmu, apakah rasa laparmu akan hilang? Tentu saja tidak.

Inilah yang sering kali kita lupakan. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kita kecuali diri kita sendiri. Kita adalah kapten dari kapal kehidupan kita. Memang, jalan mencari itu berat dan penuh liku. Tapi itulah yang membuat kita benar-benar hidup dan berproses. Kita harus mengunyah sendiri, mencerna sendiri, merasakan sendiri setiap perjalanan yang kita tempuh.

Coba kita pikirkan, hidup ini bukan tentang menemukan jawaban yang mudah. Hidup adalah proses mencari, memahami, dan menerima bahwa tidak ada satu pun jawaban yang final. Ketika kita berhenti mencari, kita sebenarnya berhenti hidup. Jadi, mari kita berani mencari, berani bertanya, dan berani menanggung ketidakpastian.

Akhirnya, hidup ini adalah tentang perjalanan mencari. Percaya itu penting, tapi jangan sampai menghindarkan kita dari pencarian. Karena dalam mencari, kita menemukan diri kita yang sebenarnya. Dan itulah makna sejati dari kehidupan. Kita harus berani mengambil tanggung jawab penuh atas hidup kita sendiri, tanpa menggantungkan harapan pada penyelamat di luar diri kita.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...