Langsung ke konten utama

Membaca Gerakan Keislaman di Sekolah - Bagian 3 Mengikuti Kajian Salafy Wahabi di Cilegon

Pengkaderan awal ketika saya sekolah menengah tertarik dengan kajian salafy bukan karena bahasan agama yang mereka berikan atau celana ngatung yang sering menjadi ciri khas mereka. Bermula dari belajar bahasa arab nahwu yang diajarkan kepada saya secara gratis, berjalan hampir beberapa bulan, sepulang sekolah setiap selesai shalat ashar atau magrib saya diajak belajar ilmu nahwu.

Dari belajar ilmu nahwu mulai disisipkan beberapa ajaran tauhid di salafy, selain itu saya juga diajarkan berdagang dengan menjual buku-buku bermanhaj salafy, berjualan tetes mata herbal yang dari sini saya dikenal sebagai penjual obat tetes mata (otem) di kalangan teman sekolah hingga kuliah.

Setelah dianggap sebagai orang yang layak diberikan ilmu yang lebih dalam lagi di salafy, saya ditawarkan membeli baju gamis khas orang yang biasa mengikuti kajian salafy karena lebih afdol datang kajian menggunakan pakaian gamis seperti disunnahkan oleh rasul, lengkap dengan celana ngatung (tidak isbal), memelihara jenggot dan jidat menghitam.

Kajian salafy yang pertama kali saya ikuti di Masjid As Salam adalah mengenai golongan yang selamat atau yang dalam bahasa arab adalah al firqotun najiah. Saya dibonceng oleh teman membawa sepeda motor, beliau lah orang mengajak ikut kajian salafy di Cilegon dan memperkenalkan dengan ikhwah salafy di Cilegon.

Bacaan buku saya banyak dijejali dengan buletin islam yang bermanhaj salafy, mewarnai corak pemikiran saya sebagai remaja yang berakidah wahabi atau salafy yang mulai berani berbeda tidak qunut, solat tarawih hanya 8 rokaat, wajib memakai sutroh ketika solat sunnah, takbirotul ihrom dan bersedekap di dada, diikuti dengan beberapa pilihan fikih dalam solat yang bermanhaj wahabi salafy lainnya.

Pada masa itu saya mengalami banyak kegamangan dalam urusan perbedaan fikih, sampai ada tokoh agama di kampung yang mengingatkan agar saya berhati-hati dalam memilih buku bacaan dan guru agama, dikhawatirkan menjadi teroris.

Dimana pada saat itu sedang ramai bom jihad yang dilakukan oleh teroris yang mengatasnamakan agama islam. Aktivis dakwah sekolah sering dikhawatirkan menjadi bibit teroris. Padahal kami meyakini yang sedang kita pelajari bukan gerakan terorisme, melainkan gerakan pemurnian tauhid yang menjauhi terorisme, menghindari takhayul, khurafat dan bidah. 

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...