Langsung ke konten utama

Postingan

Kehilangan dan Kenangan

Ada orang yang mengira kehilangan seseorang berarti kehilangan cinta. Saya dulu juga begitu. Ketika seseorang pergi, kita sibuk menghitung apa yang ikut dibawanya: senyumnya, suaranya, kebiasaan kecilnya, pesan-pesan yang dulu datang setiap pagi. Bahkan nomor teleponnya pun kadang masih kita simpan, meskipun kita tahu tidak akan pernah menelepon lagi. Aneh memang manusia ini. Barang yang sudah tidak berguna saja disimpan, apalagi kenangan. Saya pernah berpikir bahwa cinta harus berakhir dengan memiliki. Kalau tidak memiliki, berarti gagal. Kalau ditinggalkan, berarti kalah. Kalau orang yang kita cintai memilih orang lain, rasanya seperti kalah dalam pemilihan umum, hanya saja tidak ada surat suara untuk menggugat hasilnya. Padahal cinta barangkali bukan pertandingan. Ia lebih mirip perjalanan. Ada orang yang datang sebentar, kemudian pergi. Ada yang tinggal bertahun-tahun lalu tiba-tiba berubah menjadi kenangan. Ada pula yang kita kira akan menjadi rumah, ternyata hanya tempat berteduh...

Tuhan itu Ada

Ada orang yang kalau ditanya tentang Tuhan, jawabannya cepat sekali. “Tuhan itu ada.” Selesai. Saya kadang iri kepada orang semacam ini. Hidupnya tampak praktis. Tidak perlu banyak berpikir. Tidak perlu begadang mempertanyakan alam semesta. Tidak perlu pusing memikirkan mengapa manusia yang katanya diciptakan Tuhan dengan baik justru bisa saling bunuh hanya gara-gara berebut sebidang tanah atau kursi kekuasaan. Cukup percaya. Saya sendiri agak repot. Saya percaya Tuhan ada, tetapi ketika ditanya seperti apa Tuhan itu, saya mulai gagap. Sebab kalau saya bisa menjelaskan Tuhan dengan lengkap, jangan-jangan yang saya jelaskan bukan Tuhan, melainkan hasil kerja otak saya sendiri. Manusia memang lucu. Tuhan yang tidak terbatas sering kita masukkan ke dalam kalimat yang terbatas. Yang Mahabesar kita masukkan ke dalam buku kecil. Yang tidak bisa diserupakan dengan apa pun kita beri gambar, simbol, pakaian, bahkan kadang-kadang kita buatkan kartu anggota. Lebih lucu lagi, setelah Tuhan selesai...

Ketika Aku Mencoba Memahami Tuhan

Belakangan ini aku mulai menyadari bahwa persoalan tentang Tuhan ternyata tidak sesederhana yang dulu kubayangkan. Dulu aku cukup bertanya, “Apakah Tuhan ada?” Setelah membaca lebih banyak dan melihat bagaimana manusia menjalani agama, pertanyaanku berubah: “Bagaimana sebenarnya aku memahami Tuhan?” Dari sini aku menemukan dua cara melihat agama yang menarik: hermeneutika dan fenomenologi. Hermeneutika mengajakku melihat agama melalui makna. Ketika aku membaca Al-Qur’an, misalnya, aku tidak hanya melihat kata-kata yang tertulis di halaman. Aku mulai bertanya: mengapa ayat itu disampaikan? Dalam keadaan seperti apa? Apa yang dimaksud manusia pada zaman itu? Dan ketika aku membacanya sekarang, apa yang sebenarnya sedang aku pahami? Aku kemudian sadar, setiap orang datang kepada kitab dengan membawa dirinya sendiri. Ada pengalaman masa kecil, budaya, pendidikan, ketakutan, harapan, bahkan luka. Karena itu, satu ayat bisa dipahami dengan cara berbeda oleh orang yang berbeda. Hermeneutika m...