Langsung ke konten utama

Perayaan Ulang Tahun yang Biasa-Biasa saja

Seingat saya waktu kecil perayaan ulang tahun pernah dimeriahkan dengan tiup lilin dan potong kue, selepas itu tidak ada lagi momen spesial ulang tahun yang dirayakan secara khusus oleh orang tua, sekadar ucapan ulang tahun oleh orang tua dirasa cukup karena itu dirayakan atau pun tidak, sudah biasa-biasa saja.

Perayaan ulang tahun dengan ceplok telor mentah pernah saya rasakan di Sekolah, ditabur tepung terigu, diguyur air comberan, diikat di tiang bendera sekolah merupakan tradisi yang biasa dilakukan anak-anak seumuran saya ketika itu, perayaan ulang tahun yang memberikan kesan tidak terlupakan karena bau dan cukup memalukan.

Di bangku sekolah saya sempat diberikan kado ulang tahun tasbih dan sajadah oleh perempuan yang menyukai saya, hadiah yang membuat saya ingat sholat dan semakin rajin ibadah, meski perempuan tersebut tidak saya sukai dan saya berprinsip tidak mau berpacaran.

Ketika kuliah tepatnya pada saat mengisi acara organisasi pelajar, di tengah acara saya dikagetkan pemberian kue ulang tahun, ada perasaan senang bercampur malu karena tidak biasa diberikan hal yang spesial seperti itu.

Bekerja di Bogor ulang tahun dirayakan dengan mentraktir teman satu ruangan kantor dengan makan mie ayam bakso yang ada di depan pabrik. Kembali bekerja di Serang, tradisi traktir makan tidak ada, bahkan jarang merayakan ulang tahun oleh teman dan keluarga dekat.

Dari situ saya menghilangkan kolom keterangan hari ulang tahun di facebook dan media sosial lainnya, tujuannya agar orang lain tidak perlu repot-repot mengucapkan selamat ulang tahun, memberikan hadiah kado dan minta traktir makan-makan.

Satu sisi saya merasa biasa-biasa saja menjalani hari ulang tahun tanpa perayaan apapun dan sisi yang lain terkadang saya merasa ingin juga dirayakan karena melihat orang lain yang senang dirayakan oleh orang terdekat.

Semacam muncul kerinduan untuk ingin dirayakan dengan kue ulang tahun, nasi tumpeng, hadiah ulang tahun, atau sebatas ucapan selamat ulang tahun di jam 00.00 keesokan harinya bertemu dengan orang terdekat yang diberikan jabat tangan erat serta pelukan hangat.

Tetapi itu semua sepertinya harus berhenti merindukan hal tersebut sebab nantinya akan jadi tradisi rutin setiap tahun yang wajib dirayakan, saya membayangkan perasaan kecewa ketika hari ulang tahun tidak dirayakan.

Jadi lebih baik seperti saat ini saja, saya bisa merayakan ulang tahun dengan diri sendiri atau keluarga kecil, bukan menagih orang lain untuk diberikan hadiah dan ucapan selamat ulang tahun.

Agak menyedihkan namun ini cara untuk tidak terlalu menyedihkan pada saat tradisi perayaan ulang tahun harus dirayakan setiap tahunnya. Saya mencoba menyederhanakan diri sendiri dengan dirayakan tidak apa-apa dan tidak pun tidak apa-apa, setiap hari adalah perayaan dan hidup adalah perayaan itu sendiri.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...