Langsung ke konten utama

Ajaran, Budaya dan Teologi

Dalam agama ada tiga hal yang seringkali keberadaaanya tidak disadari dan mencampur adukan seolah berasal dari agama, padahal kalau mau kita telaah dan teliti lebih detail lagi bahwa ada yang namanya ajaran, budaya dan teologi.

Untuk bisa mengidentifikasi apa itu ajaran, budaya dan teologi yang ada di dalam agama, kita harus mengetahui dan memisahkan terlebih dahulu mana yang masuk ke dalam kategori ketiganya.

Jangan sampai kita gagal paham, yang membuat kita menyamaratakan semuanya berasal agama, padahal itu bagian dari ajaran, bukan bagian budaya dan teologi. Ini bagian budaya di dalam agama, bukan ajaran atau teologi. Begitupun dengan teologi pun terpisah dengan ajaran dan budaya.

Sekarang kita coba perjelas dengan contoh ajaran yang ada di agama, sedekah atau berbagi dalam bentuk menyisihkan sebagian rezeki kita kepada orang lain, ajaran sedekah ini ada hampir di semua agama. Sebab ajaran ini bersifat universal, setiap agama memiliki kesamaan ajaran yang berisikan kebaikan yang universal, bedanya ada di istilah penyebutan namanya saja.

Selanjutnya mengenai budaya di dalam agama, terkait budaya ini tergantung asal muasal agama itu lahir, tumbuh dan berkembang. Ketika agama tersebut berasal dari arab, budaya arab akan banyak ditemui di agama tersebut. Budaya memakai baju gamis adalah budaya arab yang biasa dipakai oleh pria arab, memakai gamis bukan hanya di masjid, mereka biasa di aktivitas kesehariannya memakai baju gamis.

Teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang Tuhan dan keyakinan beragama. Teologi ini yang membedakan antara agama yang satu dengan yang lainnya, sebab setiap Tuhan dalam beberapa tradisi agama punya penyebutan nama yang berbeda, cara peribadatan menyembah Tuhan yang berbeda, termasuk kitab suci dan pembawa sabda Tuhan yang berbeda.

Dengan mengetahui adanya perbedaan ajaran, budaya dan teologi yang ada di dalam agama, kita bisa secara bijak memilah dan memilih mana saja yang baik untuk diabadikan atau cukup dilestarikan.

Agama sebagai sumber inspirasi kebaikan bagi umat manusia menghadirkan ajaran kebaikan yang universal dipakai untuk kebermanfaatan sesama manusia dan kehidupan.

Budaya yang masih relevan dengan perkembangan zaman dilestarikan sebagai warisan leluhur di masa lalu, sedangkan teologi ditempatkan sebagai hasil interpretasi di masa lalu.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...