Ada sesuatu yang menarik ketika mendengarkan kajian Abu Marlo. Cara penyampaiannya berbeda dari ceramah agama yang biasa kita temui. Ia lebih banyak mengajak orang melihat agama dari sisi batin, kesadaran, pengalaman hidup, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Tidak terlalu sibuk membicarakan perdebatan fikih atau mempertentangkan kelompok keagamaan. Pendekatannya terasa dekat dengan tasawuf, bahkan kadang seperti mengajak pendengarnya melihat kembali agama dari sudut pandang yang tidak biasa. Saya kira pendekatan seperti ini punya daya tarik tersendiri. Banyak orang mungkin sudah lelah dengan ceramah yang isinya dipenuhi perdebatan halal-haram, bidah, sesat, dan benar-salah. Mereka ingin menemukan agama yang lebih menenangkan, yang tidak hanya mengatur gerakan tubuh ketika beribadah, tetapi juga menyentuh bagaimana seseorang memahami dirinya sendiri. Tasawuf memang memiliki ruang untuk itu. Ia mengajak manusia memperhatikan kebersihan hati, mengurangi kesombongan, mengenali ego, dan mem...