Langsung ke konten utama

Ketika Petarung Datang, Jangan Berharap Diskusi

Peristiwa Heri Pras yang dikeroyok tentu menyisakan keprihatinan. Banyak orang menyayangkan aksi kekerasan tersebut. Namun, kalau kita melihat rangkaian peristiwanya, ada satu hal yang menurut saya perlu dipikirkan: sebenarnya, apa yang kita harapkan dari pertemuan yang sejak awal sudah dibangun dengan suasana permusuhan?

Heri Pras disebut telah melontarkan sebutan “setan bisu” kepada Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ustaz Adi Hidayat (UAH). Pernyataan itu kemudian menambah panas suasana, terlebih setelah muncul tantangan duel dengan Yudi Cahyadi, yang sama-sama dikenal sebagai petarung. Maka, ketika para petarung datang, rasanya agak naif jika kita membayangkan akan ada diskusi yang tenang, pertukaran gagasan, atau adu argumentasi. Bukankah sejak awal nuansanya memang sudah mengarah pada adu fisik?

Saya tidak sedang membenarkan pengeroyokan. Menghina seseorang bukan alasan untuk mengeroyoknya. Tantangan duel pun tidak otomatis memberikan pembenaran bagi orang lain untuk ikut menyerang. Ada perbedaan antara menerima tantangan satu lawan satu dan mengeroyok seseorang secara beramai-ramai. Kekerasan tetaplah kekerasan, apa pun latar belakangnya.

Tetapi, saya juga merasa kita perlu belajar membaca konsekuensi dari cara seseorang membangun konflik. Ketika ruang publik dipenuhi ejekan, penghinaan, tantangan, dan provokasi, jangan terlalu terkejut jika yang muncul bukan lagi percakapan, melainkan benturan. Media sosial sering membuat orang merasa bebas melontarkan apa saja, seolah semua persoalan bisa diselesaikan dengan keberanian berkata kasar.

Di sisi lain, kita juga perlu bertanya: mengapa perbedaan pandangan keagamaan begitu mudah berubah menjadi permusuhan personal? Bukankah seseorang bisa mengkritik pendapat UAS atau UAH tanpa harus merendahkan martabat mereka? Begitu pula para pendukungnya, bisa membela tokoh yang dihormati tanpa harus menggunakan kekerasan.

Bagi saya, keberanian berpikir tidak diukur dari seberapa keras seseorang menghina lawan, dan keberanian membela ulama tidak diukur dari seberapa kuat seseorang memukul orang yang mengkritiknya.

Kalau yang datang adalah petarung, jangan berharap mereka sedang membawa forum diskusi. Namun, masyarakat tetap harus menuntut agar perbedaan diselesaikan dengan akal sehat, bukan kepalan tangan.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...