Pernahkah kita merasa hidup akan jauh lebih bahagia jika punya uang lebih banyak? Rumah lebih besar, kendaraan lebih bagus, tabungan lebih tebal, dan pekerjaan dengan gaji yang membuat orang lain kagum. Kita sering menganggap semua itu sebagai cita-cita yang wajar. Namun, tanpa sadar, keinginan mencari uang bisa berubah menjadi sesuatu yang lain: pemujaan terhadap uang.
Saya kadang membayangkan kehidupan orang yang setiap hari bekerja keras demi masa depan. Pagi berangkat ketika anak-anak belum bangun, malam pulang ketika mereka sudah tidur. Katanya, semua itu demi keluarga. Tidak ada yang salah dengan bekerja untuk keluarga. Persoalannya muncul ketika masa depan yang ingin dinikmati justru membuat kita kehilangan kehidupan yang sedang berlangsung hari ini.
Dalam psikologi, fenomena ini berdekatan dengan konsep *money worship* yang diteliti psikolog Bradley Klontz bersama rekan-rekannya. Mereka menjelaskan bahwa pola keyakinan ini membuat seseorang percaya bahwa semakin banyak uang yang dimiliki, semakin baik pula kehidupannya. Uang dibayangkan sebagai jawaban atas hampir semua persoalan: kecemasan, ketidakbahagiaan, rasa rendah diri, bahkan kebutuhan untuk diakui. Penelitian Klontz dan koleganya mengidentifikasi pola keyakinan tersebut sebagai salah satu *money scripts*, yakni keyakinan tentang uang yang dapat memengaruhi perilaku finansial seseorang. (Klontz et al., 2011; Klontz & Britt, 2012).
Masalahnya, ketika satu keinginan terpenuhi, keinginan lain segera muncul. Gaji naik, standar hidup ikut naik. Mobil baru dibeli, lalu muncul keinginan menggantinya dengan model yang lebih mahal. Kita merasa sudah cukup, sampai melihat tetangga membeli sesuatu yang lebih bagus. Akhirnya, rasa cukup terus berpindah ke tempat yang tidak pernah benar-benar kita capai.
Dari sudut pandang antropologi, uang bukan sekadar alat tukar. Uang juga memperoleh makna sosial. Di lingkungan tertentu, kekayaan menjadi lambang keberhasilan, kehormatan, dan kedudukan. Orang yang memiliki rumah besar dianggap berhasil, sedangkan orang yang hidup sederhana kadang ditanya, “Kapan suksesnya?” Seolah-olah perjalanan hidup baru dianggap sah setelah rekening dan harta mencapai ukuran tertentu.
Budaya konsumsi dan media sosial memperkuat keadaan ini. Kita tidak hanya membeli barang untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga untuk menunjukkan siapa diri kita. Sepatu, telepon genggam, kendaraan, dan tempat berlibur berubah menjadi bahasa sosial untuk menyampaikan status. Akibatnya, seseorang bisa membeli sesuatu bukan karena membutuhkannya, melainkan karena takut terlihat tertinggal.
Psikolog Erich Fromm, dalam *To Have or to Be?* (1976), membedakan orientasi memiliki (*having*) dan orientasi menjadi (*being*). Dalam orientasi memiliki, manusia cenderung mendefinisikan dirinya melalui apa yang dimiliki. Dalam orientasi menjadi, perhatian beralih pada bagaimana seseorang menjalani kehidupan, berpikir, mencintai, dan berhubungan dengan orang lain. Gagasan ini membantu kita memahami mengapa kekayaan materi tidak selalu berbanding lurus dengan kepuasan hidup.
Tentu, uang tetap penting. Kemiskinan bukan kebajikan, dan kebutuhan ekonomi bukan persoalan yang bisa diselesaikan hanya dengan berpikir positif. Uang dapat menyediakan makanan, pendidikan, tempat tinggal, dan rasa aman. Yang perlu dipertanyakan bukan kebutuhan kita terhadap uang, melainkan kedudukan uang dalam menentukan nilai diri dan arah kehidupan.
Barangkali kita perlu sesekali berhenti dan bertanya: apakah kita sedang mengumpulkan uang untuk hidup lebih baik, atau mengorbankan hidup demi mengumpulkan uang? Sebab, jika ukuran keberhasilan selalu ditentukan oleh sesuatu yang lebih mahal, lebih besar, dan lebih banyak, garis finis itu akan terus menjauh.
Pada akhirnya, mungkin kebebasan finansial bukan hanya kemampuan membeli apa pun yang kita inginkan. Kebebasan juga berarti kemampuan mengatakan, “Saya sudah cukup,” tanpa harus merasa kalah hanya karena orang lain memiliki lebih banyak.
Komentar
Posting Komentar