Kalau mengingat masa sekolah dulu, perjalanan saya mengenal Islam ternyata cukup berwarna. Saya pernah mengikuti kajian dari beberapa kelompok dan pergerakan Islam. Mulai dari liqo Tarbiyah PKS sejak SMP, bersinggungan dengan Jamaah Tabligh, kemudian mengenal kajian Salafi atau yang sering disebut Wahabi ketika SMA. Pada masa itu saya juga sempat bersinggungan dengan HTI dan NII. Di luar semua itu, saya tetap belajar kitab kuning dan mengaji kepada ustaz yang berlatar belakang NU.
Kalau dipikir-pikir, saya seperti sedang berkeliling dari satu ruang kajian ke ruang kajian lainnya. Setiap tempat punya suasana, cara bicara, kebiasaan, dan cara sendiri dalam menjelaskan Islam.
Di liqo Tarbiyah, saya mengenal pola pembinaan yang teratur. Ada pertemuan rutin, materi keislaman, pembentukan karakter, dan pembicaraan tentang tanggung jawab seorang Muslim. Ada semangat membangun jamaah dan memperbaiki diri secara bersama-sama.
Ketika bersinggungan dengan Jamaah Tabligh, saya melihat corak dakwah yang berbeda. Mereka lebih banyak mengajak orang datang ke masjid, salat berjamaah, dan keluar berdakwah. Ada kesederhanaan dalam cara mereka mengajak orang, meskipun bagi orang yang belum terbiasa, pola hidup dan kegiatan mereka mungkin terasa cukup berbeda.
Lalu ketika SMA, saya mulai mengenal kajian Salafi. Pembahasannya banyak berkisar pada tauhid, hadis, sunnah, bidah, dan ajakan kembali kepada pemahaman generasi awal Islam. Cara penyampaiannya sering tegas dan langsung. Ada penekanan pada dalil, bahkan dalam perkara yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana.
Saya juga sempat bersinggungan dengan HTI dan NII. Dari sana saya mulai melihat bahwa dakwah Islam tidak selalu berbicara tentang ibadah pribadi. Ada pula pembahasan mengenai negara, kepemimpinan, sistem politik, dan gagasan tentang bagaimana masyarakat seharusnya diatur.
Sementara itu, belajar kitab kuning dan mengaji kepada ustaz NU memberi pengalaman yang agak berbeda. Saya mengenal tradisi pesantren, pembahasan fikih, perbedaan pendapat ulama, dan kebiasaan hidup berdampingan dengan praktik keagamaan yang beragam.
Semakin banyak berinteraksi, semakin saya menyadari bahwa setiap kelompok punya cara membangun keyakinan dan mempertahankan prinsipnya. Ada kader yang ramah, terbuka, dan enak diajak berdiskusi. Ada juga yang mudah curiga terhadap orang berbeda pandangan. Kadang pertemanan terasa hangat selama kami berada dalam pemahaman yang sama, tetapi mulai berubah ketika muncul perbedaan pendapat.
Saya juga menyaksikan bagaimana perdebatan antargolongan bisa berlangsung panjang. Persoalan qunut, tahlilan, maulid, musik, cadar, jenggot, sampai urusan negara bisa menjadi pembicaraan yang seolah tidak ada habisnya. Masing-masing punya dalil dan keyakinan sendiri. Kadang yang dipertahankan bukan lagi sekadar pendapat, melainkan kehormatan kelompok.
Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa mengenal sebuah gerakan tidak cukup hanya dengan membaca buku atau mendengar penjelasan orang yang tidak menyukainya. Kita perlu melihat langsung bagaimana orang-orangnya berinteraksi, berdakwah, memperlakukan sesama, dan menghadapi perbedaan.
Saya tidak merasa harus menyesali pernah mengenal banyak kelompok tersebut. Justru pengalaman itu membuat saya lebih memahami bahwa Islam yang saya temui dalam kehidupan sehari-hari memiliki banyak corak dan cara pandang.
Sekarang saya lebih tertarik melihat bagaimana seseorang memperlakukan manusia lain daripada sekadar mengetahui ia berasal dari jamaah mana.
Sebab setelah melewati berbagai ruang kajian, saya sampai pada satu kesadaran sederhana: kita bisa sangat bersemangat membela pemahaman agama, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan untuk menghormati manusia yang berbeda pemahaman.
Komentar
Posting Komentar