Langsung ke konten utama

Rajin Doa Agar Kaya Raya Tetapi Tidak Pernah Terkabul

Menginginkan berlimpahnya uang dengan jalur langit, agaknya gampang-gampang susah, tergantung takaran rezeki masing-masing. Ada yang dipermudah dengan doanya tersebut dan ada juga yang masih serba kekurangan.

Efektivitas doa dalam mewujudkan keinginan kita masih belum signifikan mengubah, diutamakan adalah sebesar apa kerja cerdas kita untuk mencapai keinginan tersebut. Fungsi doa untuk mendukung dan pemantap hati agar keinginan yang dikejar dapat tercapai sesuai dengan harapan kita.

Bahkan rajinnya doa kita agar bisa kaya raya belum tentu bisa mendapatkan seperti yang kita inginkan. Dikatakan belum tentu karena banyak faktor pendukung lainnya yang menentukan terkabulnya doa-doa kita. Rumusannya adalah tindakan atau usaha berbanding lurus dengan hasil pencapaian yang diharapkan.

Sebaiknya doa yang rajin itu diikuti dengan tindakan nyata yang mengantarkan kita kepada datangnya uang yang lebih banyak, seperti adanya bisnis sampingan, jualan makanan, pakaian, online shop dan seterusnya. Kita jangan berhenti dirajinnya doa saja, coba dimaksimalkan juga usaha atau bisnisnya.

Realistis saja karena selama ini uang yang didapatkan dari gaji perusahaan, saya tidak bisa hanya mengharapkan uang lemburan yang datangnya tidak menentu, kalau mau saya belajar bisnis atau jualan untuk menambah penghasilan. Ini semua adalah wujud agar doa yang dihaturkan kepada Allah ada tempat untuk menyalurkannya, selain dari gaji bulanan perusahaan.

Kalau bisnis tidak diupayakan, impian ingin menjadi kaya raya dengan gaji dan jabatan yang saat ini, mencapai impian kaya raya rasanya sulit. Oleh karena itu nalar saya sebatas, gaji saya segini maka menyesuaikan diri agar pengeluaran tidak besar melebihi batas maksimal toleransi yang telah disepakati di arus kas pengeluaran keluarga.

Menunggu rezeki yang tidak terduga lewat jalur keahlian yang saya miliki karena jarang iklan lagi di media sosial, otomatis pesanan untuk menggunakan jasa keahlian saya pun berkurang bahkan tidak ada sama sekali.

Dengan begini saya memilih hidup pas-pasan, pas ada uangnya boleh dibeli dan ketika tidak ada uangnya lebih baik tidak usah dipaksakan membelinya. Sebisa mungkin tidak berhutang dengan orang lain dan menolak meminjamkan uang ke orang lain karena saya paham ketika meminjamkan ada kemungkinan uangnya tidak dikembalikan, kemudian kalau ingin membantu dan ada uang lebih sebaiknya diberikan secara sukarela.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...