Langsung ke konten utama

Sialnya Kita Beda Nasib

Ada banyak yang tidak direncanakan dengan begitu matang mengenai masa depan. Mulai dari punya rumah, kendaraan baru, jumlah anak, tabungan yang harus dimiliki hingga kekayaan yang idealnya dimiliki di usia tertentu. Itu semua hampir blank, saya pikir itu semua ada waktunya dan akan terkumpul ketika uangnya mencukupi, kalau tidak ya biarkan saja, toh tidak semuanya harus dimiliki secara ideal.

Hati saya cukup minder pada saat ada teman sekolah di perusahaan tempat bekerja punya jabatan pekerjaan yang lebih mapan dan tinggi. Keminderan ini semakin menguat pada saat melihat adanya gap pendapatan gaji perbulan seolah saya adalah pembantu dan teman adalah majikannya. Mau nangis kayaknya tidak perlu, tapi ingin tertawa takut disangka gila.

Lama kelamaan saya mulai overthinking memikirkan kok kita beda nasib ya. Beberapa teman saya mendapatkan kemapanan finansial yang lebih baik sedangkan saya masih pas-pasan, maunya sih saya terlihat kaya raya dengan rumah yang bagus dan kendaraan yang mewah. Sayangnya kenyataan menampar diri saya untuk menyadari ketidakmampuan untuk menjangkau kemapanan finansial mereka ini.

Untuk menyenangkan hati dengan mengutip kata bijak, syukuri apa yang ada semuanya adalah anugerah Tuhan, nikmati yang ada dan tidak usah dicari yang tidak ada. Untuk sementara kata bijak ini bisa menenangkan, namun ketika hati sedang panas untuk membuktikan bahwa saya juga mampu membeli yang mereka punya, kayaknya ini waktu yang tepat untuk mengambil hutang di bank atau pinjaman online.

Hebatnya saya bisa mengendalikan dan tahu diri juga kalau untuk bisa sampai seperti mereka, saya harus bekerja lebih keras lagi dan punya usaha sampingan yang penghasilannya bisa mendongkrak penghasilan buruh pabrik di kota Cilegon.

Oleh karena saya menganut hidup santai, jadi kalau sekarang yang saya punya ini belum bisa mencapai kepada kehidupan yang lebih mapan dan berhasil, ya tidak apa-apa. Hadirkan rasa cukup dan rajin-rajin lah berhemat.

Saya paham resiko meminjam uang di bank dengan jumlah ratusan juta, saya harus menderita selama beberapa tahun agar bisa memuaskan keinginan yang tentu tidak akan ada habisnya. Penderitaan itu saya tanggung dengan menjalani tiap hari yang serba kekurangan, sehingga hidup dengan hutang sana sini, gali loba dan tutup lobang.

Hidup yang seperti ini yang tidak santai dan saya tidak mau. Saya sudah menakar jangkauan kemampuan finansial, kalau belum mampu harus rajin menabung dan menunda keinginan yang berlebihan. Tidak harus punya seperti yang orang lain punya toh, mampunya segini ya sudah kita syukuri seadanya.

Pengetahuan mengenai mengendalikan keinginan dan makna bahagia ini penting saya ketahui dengan baik. Bahwa kebahagiaan adalah tentang terpenuhinya keinginan sedangkan kesusahan adalah tidak tercapainya keinginan, maka saya mencoba untuk terus belajar mengendalikannya dengan menghadirkan perasaan cukup serta tidak gampang iri dengan pencapaian orang lain.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...