Langsung ke konten utama

Serangan Fajar; Harga dari Pertukaran Uang dengan Pencoblosan Caleg

Besok pemilihan presiden beserta perangkat anggota legislatif lainnya, mendapat kabar banyaknya caleg yang membagikan uang atau membangunkan aula dan memperbaiki jalan raya kepada masyarakat. Sedangkan mereka yang menolak membagikan uang, diganti dengan memberikan sembako, buku, kipas, kalender dan barang lainnya.

Di komplek perumahan tempat saya tinggal ada yang membagikan uang dengan seruan memilih dia. Tentu saya tolak dengan lembut, maaf bisa kasih saya uang yang lebih besar dari ini? 

Larangan menerima uang sogokan ketika pemilihan umum sering disuarakan oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat, mungkin secara sadar banyak yang setuju namun secara realitas mereka butuh uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari. 

Uang sogokan dahulu muncul di waktu fajar (subuh) tiba dibagikan ke konstituen daerah pemilihannya, populer masyarakat mengenalnya sebagai serangan fajar.

Besaran serangan fajar jumlahnya variatif, di kota ada di angka 100 ribu sampai 300 ribu per orang. Bisa dibayangkan modal para caleg untuk bisa sedekah serangan fajar ke masyarakat?

Tradisi serangan fajar di nantikan oleh masyarakat Indonesia yang sudah dianggap bagian dari pesta demokrasi yang merupakan kegiatan transaksional.

Saya punya uang, saya punya kuasa. Bisa jadi saya kalah, tapi saya menang soal pikiran. Taiiiikk..

Pertukaran banyaknya uang demi mendapatkan suara di daerah pemilihan dengan strategi yang tepat, terbukti memenangkan suara di daerahnya.

Teman saya yang menjadi caleg kota dari Partai Islam, punya uang dan digabung dengan uang milik sponsor, terkumpul 1,5 milyar rupiah. Alhamdulillah ala kulli hal menang dan terlihat balik modal dengan kekayaan yang dia punya saat ini.

Lu jual, gue beli. Secara pragmatis hari ini masyarakat butuh uang, tidak peduli 5 tahun ke depan bakal seperti apa ketika mereka menjadi anggota legislatif. Di samping kita tahu sama tahu kemungkinan besar, mereka korupsi agar uangnya balik modal.

Melihat fenomena serangan fajar ini, tidak usah terlalu idealis menolak, terima saja uangnya dan urusan pilihan sesuai dengan rekomendasi pemberi uang. Kalaupun menolak itu lebih baik.

Toh mereka kalau sudah jadi anggota dewan legislatif seringkali lupa dengan pemilihnya, mereka sedang sibuk cari uang untuk balik modal, buka lahan bisnis baru, bayar hutang ke sponsor atau ke bank dan menjadi baik membagikan uang lagi di 5 tahun mendatang.

Jadi sekarang kamu dapat uang berapa dari para caleg? Atau sudah ikhlas tidak mendapat apa-apa dari caleg? Ingat mereka kaya raya, hasil dari uang pajak kita juga.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...