Langsung ke konten utama

Kemelekatan Diri

Pada saat kita dekat yang rutin dan mengalami ketergantungan dengan seseorang ataupun benda tertentu, maka akan muncul kemelekatan dalam diri kita. Kita tidak bisa lepas dari orang tersebut, sekalinya ingin lepas kita akan mengalami penderitaan dan kesedihan yang sulit untuk dihilangkan.

Daya lekat ini menempel kepada hati atau pikiran kita yang untuk melepasnya butuh waktu yang tidak sebentar dan sakitnya yang bisa membuat kita mendramatisir keadannya. Jika akibatnya adalah sakit hati, kemelekatan menyebabkan penderitanya tidak ingin kehilangan dan berharap agar bisa dekat lagi seperti dulu.

Tidak ada cara yang pasti untuk menghilangkan kemelekatan karena sejatinya setiap manusia punya yang namanya rasa memiliki sesuatu, ketika rasa memiliki itu begitu kuat, semakin kuat juga upaya untuk bisa lepas dari kemelakatan tersebut. Namun ketika rasa memilikinya rendah, kita akan lebih mudah untuk melepaskan sebab sadar kalau semua itu bukan milik kita dan bisa pergi begitu saja.

Ada dua kendali yang bisa kita ketahui, pertama kendali diri dan kedua kendali orang lain. Kendali diri adalah semua yang dapat kita kendalikan dan kendali orang adalah semua yang orang lain kendalikan sehingga kita tidak bisa mengendalikannya.

Orang lain membenci, marah, memfitnah dan merugikan kita, kendalinya ada di orang tersebut, kita sendiri tidak dapat mengendalikan apalagi mengaturnya, tetapi kita dapat mengendalikan respon atas apa yang mereka lakukan kepada kita.

Kendali kita adalah mengendalikan semua respon yang bisa kita ukur dan hitung untuk melakukan tindakan terbaik apa yang dapat kita lakukan kepada situasi atau keadaan tersebut.

Dalam kemelekatan yang bisa kita kendalikan adalah respon terbaik apa yang bisa kita lakukan agar kemelekatan tidak terlalu merugikan diri kita sendiri. Untuk antisipasinya kita harus bisa menyadari bahwa apapun yang kita milki sejatinya bukan milik kita yang suatu saat bisa hilang, pergi dan tidak kita miliki lagi.

Dengan mengendalikan kemelekatan kita dapat mengukur sejauh mana diri kita melekat kepada orang lain atau benda tertentu, sehingga kita tidak terlalu berlebihan dalam menggandrungi hal tersebut. Kendali kita menempatkan segala sesuatunya dengan biasa saja atau semestinya.

Bersikap apa adanya, semestinya dan sewajarnya dapat membuat kita tidak lagi menjadikan kita terlalu melekat terhadap apapun yang membuat kita tidak bisa lepas dari yang namanya kemelekatan yang merugikan diri kita sendiri.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...