Langsung ke konten utama

Asal Tidak Ganggu Ternak Warga

Betapa sering kita terganggu oleh keadaan politik, hinaan, bad mood, dan gangguan yang membuat kita terbawa perasaan dan tidak terima. Memang benar kita lebih mudah terganggu ketika ada keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita, respon kita cenderung marah dan melawan gangguan tersebut.

Perbedaan pilihan politik saat ini membuat kita sering ribut dan berdebat memenangkan pasangan calon presiden yang kita dukung. Kita membela mati-matian calon presiden dengan memberikan serangkaian alasan bahkan kalau pelu hinaan yang merendahkan lawan debat, ada yang dibungkus dengan candaan dan ada juga yang menghina terang-terangan.

Kalau dibawa seru dan asyik, perdebatan pilihan calon presiden bisa jadi ajang lucu-lucuan dan saling sindir untuk menambah keakraban. Namun banyak juga yang memang menjadikan perdebatan untuk memberikan ciri mana yang sebagai lawan dan kawan.

Seperti pemilihan presiden yang lalu, ribut dan rusuh dengan keluarga hingga teman sendiri berlangsung lama yang menyebabkan kerenggangan dalam komunikasi di setiap pertemuan. Untungnya sekarang sudah berkurang karena pasangan calon presiden yang dulunya bersiteru, sekarang sudah berkoalisi.

Kita perlu membuat rileks pikiran dan perasaan ketika muncul perdebatan atau hal-hal lain yang membuat kita terganggu. Salah satunya dengan penyangkalan dan mencari keuntungan apa yang didapat dari tindakan tersebut.

Selama tidak ganggu ternak warga, seharusnya hal yang mengganggu apapun tidak sampai mempengaruhi diri kita, sebab kita sadar memahami banyak hal yang berada di luar kendali diri kita, dimana kita sulit untuk mengendalikan gangguan tersebut.

Ungkapan asal tidak ganggu ternak warga yang sering diucapkan netizen di kolom komentar instagram menjadi hal yang lucu dan menggelikan. Saya sering menggunakan ini ketika terjadi perdebatan politik yang tidak ada habisnya.

Gangguan hidup terasa ringan apabila kita bisa memisahkan mana yang ada di dalam kendali diri kita dan mana yang ada di luar kendali diri. Menyadari hinaan, cacian, perbedaan politik, dan banyak hal yang di luar kendali kita, tidak usah diberikan perhatian lebih dan terlalu diurusi.

Biarkan hal tersebut menjadi urusan orang lain, kita fokus saja kepada diri sendiri dan respon apa yang sebaiknya kita lakukan. Kita mengendalikan segala sesuatunya dengan respon apa yang sesuai, bukan dikendalikan oleh gangguan dari luar. Sebisa mungkin kita kendalikan dari dalam dan menentukan respon yang terbaik.



Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...