Langsung ke konten utama

Mendekat Taufik, Memahami Hidayah

2007 saya melihat untuk pertama kalinya sosok pria yang berperawakan khas dan gagah, keberaniannya dalam mengemukakan pendapat di acara motivasi dalam agenda ospek kampus begitu cerdas dan saya punya prediksi ini orang pasti dulunya punya pengalaman memimpin organisatoris yang baik.

2008, 2009 dan 2010 kami mulai mengenal dekat, mulai dari kajian pekanan, kegiatan organisasi kampus dan ekstra kampus. Ternyata kami punya kesamaan yakni spealisasi menjadi seksi acara, beliau sebagai konseptor yang mampu merunut agenda acara secara sistematis dan rapi, sedangkan saya cukup baik di koordinasi lapangan dan dinamisasi acara.

2011 dan 2012 kami didekatkan lagi melalui satu kepengurusan di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik yang di masa akhir kepengurusan banyak yang sudah wisuda, namun kami masih berjibaku mengurusi kaderisasi dan Laporan Pertanggungjawaban hingga selesai.

November 2012 kami wisuda bersama, di 2013 kita sudah kerja di tempat masing-masing. Perjalanan tahun-tahun berikutnya kami sibuk dengan kerja, pernikahan, rumah tangga dan lainnya.

2016 kami dipertemukan kembali melalui olahraga memanah yang ketika itu mengenalkan bagaimana asyiknya memanah, 2017 kami bergabung bersama di organisasi panahan di Serang. Sempat punya bisnis panahan bersama yang memproduksi aksesoris panahan mulai dari anak panah hingga quiver tempat anak panah.

2018, 2019, 2020 kami masih menjalin komunikasi dan silaturahmi di media sosial, pernikahan teman, memanah bersama, tasyakuran kelahiran anak, dan lain sebagainya.

Sekitar hari raya idul fitri 2020 ada semacam kerinduan untuk memanah bersama kembali di bumi perkemahan cilegon. Di situ ada dialog yang begitu personal dan mendalam.

Bi, banyak yang nanyain ke gw perubahan diri lu, minta gw buat ngingetin lu dan kenapa gw masih mau temenan sama lu? Gw jawab, orang yang semodel Roby Martin banyak di dunia ini enggak cuman satu. Kalau memang lu berubah dan berbeda memangnya kenapa? Bukan masalah, karena kita bersaudara.

Merespon hal tersebut saya tersenyum dan menjawab semua orang mah bebas berasumsi dan berpersepsi apapun. Saya menyerap menerima anggapan apapun dari orang lain. Tidak menolaknya, tidak marah dan tidak apa-apa orang membenci saya. Terpenting aslinya saya bisa berbuat baik sama orang terdekat dan tidak merugikan orang lain secara langsung.

Awal tahun 2021 kita berpisah secara fisik sebagai sahabat dan saudara, namun secara emosi kita masih dekat hingga saat ini. Melalui doa terbaik dan kenangan kita bersama, mudah-mudahan mendekat taufik (bimbingan) dan memahami hidayah (petunjuk). Seperti nama besar aktivis dakwah yang dikenang banyak orang yang mengenalmu, Deden Taufik Hidayatullah.



Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...