Saya akan menempatkan polemik ini sebagai persoalan otoritas dan istilah keilmuan, bukan pertarungan antar-kelompok. Yang menarik justru bagaimana perbedaan penilaian terhadap seorang ulama tidak harus berubah menjadi kebencian terhadap orang yang mengikuti pendapatnya. Nama Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani kembali ramai diperbincangkan di Indonesia setelah Ustaz Adi Hidayat mempersoalkan penyebutan Al-Albani sebagai muhaddits. Menurut Adi Hidayat, dengan kriteria tertentu dalam tradisi ilmu hadis, Al-Albani lebih tepat ditempatkan sebagai bahits fi al-hadits, atau peneliti hadis. Pernyataan itu kemudian berkembang menjadi perdebatan di media sosial. Bagi sebagian orang, persoalan ini mungkin terdengar sederhana: Al-Albani seorang ahli hadis atau bukan? Tetapi ternyata tidak sesederhana itu. Al-Albani memiliki pengaruh yang besar, terutama dalam perkembangan pemikiran Salafi kontemporer. Sebagian pengikutnya bahkan memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepadanya. Di sisi lain,...