Langsung ke konten utama

Polemik antara Ustadz Adi Hidayat dengan Kalangan Salafi-Wahabi

Saya akan menempatkan polemik ini sebagai persoalan otoritas dan istilah keilmuan, bukan pertarungan antar-kelompok. Yang menarik justru bagaimana perbedaan penilaian terhadap seorang ulama tidak harus berubah menjadi kebencian terhadap orang yang mengikuti pendapatnya.

Nama Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani kembali ramai diperbincangkan di Indonesia setelah Ustaz Adi Hidayat mempersoalkan penyebutan Al-Albani sebagai muhaddits. Menurut Adi Hidayat, dengan kriteria tertentu dalam tradisi ilmu hadis, Al-Albani lebih tepat ditempatkan sebagai bahits fi al-hadits, atau peneliti hadis. Pernyataan itu kemudian berkembang menjadi perdebatan di media sosial.

Bagi sebagian orang, persoalan ini mungkin terdengar sederhana: Al-Albani seorang ahli hadis atau bukan? Tetapi ternyata tidak sesederhana itu.

Al-Albani memiliki pengaruh yang besar, terutama dalam perkembangan pemikiran Salafi kontemporer. Sebagian pengikutnya bahkan memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepadanya. Di sisi lain, terdapat ulama dan kalangan akademik yang mengkritisi metodologi, kualifikasi, maupun sebagian kesimpulan hadisnya. Karena itu, ketika gelar muhaddits dipersoalkan, yang ikut tersentuh bukan hanya sebuah istilah, tetapi juga otoritas seorang tokoh yang sudah menjadi rujukan bagi banyak orang.

Di sinilah saya kira kita perlu berhenti sebentar.

Ilmu seharusnya menyediakan ruang untuk mempertanyakan seorang ulama tanpa harus membencinya.

Kalau Adi Hidayat memiliki argumen mengenai definisi muhaddits, silakan diuji. Apakah kriterianya tepat? Apakah definisi ulama klasik masih bisa diterapkan begitu saja pada ulama modern? Apakah istilah muhaddits memang memiliki satu standar yang disepakati semua pihak? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang semestinya menjadi bahan diskusi.

Bahkan di tengah polemik tersebut, ada sumber yang mengingatkan bahwa perbedaan antara muhaddits dan bahitsul hadits perlu ditempatkan secara hati-hati karena istilah tersebut tidak selalu memiliki batas yang tunggal dan mutlak dalam seluruh tradisi keilmuan.

Jadi, kalau seorang Muslim Salafi merasa yakin dengan penelitian Al-Albani dan menjadikannya rujukan, menurut saya itu tidak perlu menjadi persoalan pribadi bagi kita.

Silakan.

Seseorang boleh memilih ulama yang dianggap paling sesuai dengan metodologi yang diyakininya. Kita mungkin tidak sepakat dengan kesimpulan Al-Albani tentang sebuah hadis. Kita juga boleh mengikuti ulama lain yang memiliki penilaian berbeda. Tetapi perbedaan rujukan tidak harus membuat kita saling membenci.

Saya justru melihat polemik seperti ini sebagai kesempatan untuk belajar bahwa menghormati ulama tidak berarti menganggap semua pendapatnya kebal dari penelitian.

Begitu pula mengkritik seorang ulama tidak berarti seluruh jasanya harus dibuang.

Al-Albani tetap dapat dipelajari. Karya-karyanya tetap dapat dibaca. Metodenya dapat diteliti. Pendapatnya dapat dibandingkan dengan ulama hadis lainnya. Dan pada saat yang sama, orang lain tetap memiliki hak untuk memilih tidak mengikuti kesimpulannya.

Masalah muncul ketika persoalan ilmiah berubah menjadi fanatisme identitas.

Ketika seseorang berkata, “Saya mengikuti Al-Albani,” lalu kita langsung menganggapnya sebagai lawan. Atau sebaliknya, ketika seseorang mengkritik Al-Albani lalu dianggap sedang menghina Islam.

Padahal ilmu justru berkembang karena manusia berani bertanya.

Menariknya, Adi Hidayat kemudian membawa pembahasan tersebut ke dalam bentuk buku Syaikh Albani di Antara Muhaddits dan Bahitsul Hadits dan mendorong masyarakat membaca pembahasan secara utuh, bukan hanya potongan video di media sosial.

Bagi saya, itu semestinya menjadi pelajaran yang lebih besar.

Jangan jadikan ulama sebagai idola yang tidak boleh disentuh kritik. Jangan pula menjadikan kritik terhadap ulama sebagai alasan untuk merendahkan pengikutnya.

Kalau memang ada perbedaan, mari dudukkan di meja ilmu.

Baca kitabnya. Periksa argumennya. Bandingkan dengan ulama lain. Lihat metodologinya. Setelah itu, kalau kita tetap berbeda, ya tidak apa-apa.

Sebab mungkin kedewasaan beragama bukan ketika kita berhasil membuat semua orang mengikuti ulama yang kita sukai.

Kedewasaan justru muncul ketika kita bisa berkata:

“Saya tidak mengikuti pendapatnya, tetapi saya tetap menghormati orang yang memilih mengikutinya.”

Dan mungkin di situlah ilmu menjadi lebih indah: perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk saling membenci, tetapi kesempatan untuk sama-sama belajar.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...