Belakangan saya sering melihat orang di media sosial dengan santai menulis di bio: atheist, agnostic, atau “tidak percaya Tuhan”. Saya kadang membacanya sambil menyeruput kopi dan berpikir, ternyata zaman sudah berubah. Dulu orang mungkin menyimpan pertanyaan tentang Tuhan sendirian di kamar. Sekarang pertanyaan itu bisa dipasang di profil, lengkap dengan foto dan emoji. Di Indonesia, keberanian semacam ini cukup menarik. Kita hidup di tengah masyarakat yang agama bukan sekadar urusan pribadi. Agama hadir dalam keluarga, sekolah, lingkungan kerja, pergaulan, bahkan dalam percakapan sederhana seperti, “Kamu agamanya apa?” Maka ketika seseorang mengatakan dirinya ateis atau agnostik, yang muncul bukan hanya diskusi tentang Tuhan. Identitas itu bisa membawa persoalan lain: dianggap aneh, sesat, sedang mencari perhatian, tidak bermoral, atau bahkan dianggap sedang menantang keyakinan orang lain. Padahal sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan labelnya. Seseorang boleh saja ateis. Bol...