Belakangan ini aku mulai menyadari bahwa persoalan tentang Tuhan ternyata tidak sesederhana yang dulu kubayangkan. Dulu aku cukup bertanya, “Apakah Tuhan ada?” Setelah membaca lebih banyak dan melihat bagaimana manusia menjalani agama, pertanyaanku berubah: “Bagaimana sebenarnya aku memahami Tuhan?” Dari sini aku menemukan dua cara melihat agama yang menarik: hermeneutika dan fenomenologi. Hermeneutika mengajakku melihat agama melalui makna. Ketika aku membaca Al-Qur’an, misalnya, aku tidak hanya melihat kata-kata yang tertulis di halaman. Aku mulai bertanya: mengapa ayat itu disampaikan? Dalam keadaan seperti apa? Apa yang dimaksud manusia pada zaman itu? Dan ketika aku membacanya sekarang, apa yang sebenarnya sedang aku pahami? Aku kemudian sadar, setiap orang datang kepada kitab dengan membawa dirinya sendiri. Ada pengalaman masa kecil, budaya, pendidikan, ketakutan, harapan, bahkan luka. Karena itu, satu ayat bisa dipahami dengan cara berbeda oleh orang yang berbeda. Hermeneutika m...