Langsung ke konten utama

Postingan

Membaca Al-Qur’an dari Tanah yang Kita Pijak

Mungkin selama ini kita terlalu sering membaca Al-Qur’an dengan mata yang mengarah ke masa lalu, tetapi lupa melihat tanah tempat kita berdiri. Kita membaca ayat-ayat yang lahir di Jazirah Arab berabad-abad lalu, kemudian membawanya ke Indonesia yang memiliki sejarah, bahasa, kebudayaan, dan persoalan yang sangat berbeda. Padahal, Al-Qur’an hari ini dibaca oleh manusia Nusantara: di masjid, pesantren, rumah sederhana, kampus, pasar, pabrik, bahkan melalui layar telepon genggam. Dari situlah muncul pertanyaan sederhana: bagaimana kalau Al-Qur’an dibaca dari pengalaman Nusantara? Bukan untuk mengubah Al-Qur’an. Bukan pula untuk mengganti ajaran Islam dengan budaya lokal. Tetapi untuk memahami bagaimana pesan Al-Qur’an dapat benar-benar hidup di tengah masyarakat yang kita jalani setiap hari. Sejarah menunjukkan bahwa Islam ketika datang ke Nusantara tidak bertemu dengan tanah yang kosong. Sudah ada masyarakat dengan adat, kepercayaan, bahasa, kesenian, dan kebiasaan yang beragam. Islam k...

Menjadi Peneliti bagi Pikiran Sendiri

Ada satu kebiasaan yang baru kusadari belakangan ini. Hampir setiap hari aku begitu sibuk menilai dunia, tetapi hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan pikiranku sendiri. Aku tahu siapa yang salah di media sosial. Aku tahu siapa yang munafik, siapa yang sombong, siapa yang paling benar. Anehnya, aku jarang bertanya, "Mengapa aku begitu mudah marah?" atau "Dari mana sebenarnya rasa takut ini muncul?" Barangkali perjalanan paling jauh bukan pergi ke gunung, bukan menyeberangi lautan, melainkan masuk ke dalam kepala sendiri. Aku pernah mencoba duduk sendirian tanpa musik, tanpa ponsel, tanpa melakukan apa pun. Baru beberapa menit, pikiranku sudah berlari ke mana-mana. Mengingat percakapan kemarin. Mengkhawatirkan besok. Membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Rupanya selama ini bukan dunia yang ribut. Pikirankulah yang tidak pernah benar-benar diam. Sejak saat itu aku mulai mencoba sesuatu yang sederhana. Bukan mengusir pikiran, bukan melawannya. Hanya mel...

Barangkali Kita Tidak Sibuk, Hanya Takut Berhenti

Belakangan ini aku sering bertanya pada diri sendiri, kenapa rasanya hidup makin cepat? Padahal jam masih tetap dua puluh empat jam sehari. Matahari masih terbit dari timur. Langit masih berganti warna setiap sore. Yang berubah mungkin bukan waktunya, tetapi kita. Aku ingat dulu, selesai bekerja rasanya memang selesai. Orang pulang, duduk di teras, mengobrol dengan tetangga, lalu tidur. Hari berganti begitu saja. Sekarang, selesai bekerja bukan berarti pekerjaan selesai. Masih ada pesan yang harus dibalas, ada notifikasi yang harus dibuka, ada kursus yang katanya harus diikuti, ada target yang terus bertambah. Bahkan ketika tubuh sedang rebah di kasur, pikiran masih sibuk mengejar sesuatu. Aneh ya. Tidak ada yang benar-benar menyuruh kita. Tidak ada orang yang berdiri di depan rumah sambil berkata, "Kamu harus lebih sukses." Tidak ada yang memaksa membuka media sosial berkali-kali dalam sehari. Tidak ada yang meminta kita membandingkan hidup dengan orang lain. Tetapi hampir s...