Mungkin selama ini kita terlalu sering membaca Al-Qur’an dengan mata yang mengarah ke masa lalu, tetapi lupa melihat tanah tempat kita berdiri. Kita membaca ayat-ayat yang lahir di Jazirah Arab berabad-abad lalu, kemudian membawanya ke Indonesia yang memiliki sejarah, bahasa, kebudayaan, dan persoalan yang sangat berbeda. Padahal, Al-Qur’an hari ini dibaca oleh manusia Nusantara: di masjid, pesantren, rumah sederhana, kampus, pasar, pabrik, bahkan melalui layar telepon genggam. Dari situlah muncul pertanyaan sederhana: bagaimana kalau Al-Qur’an dibaca dari pengalaman Nusantara? Bukan untuk mengubah Al-Qur’an. Bukan pula untuk mengganti ajaran Islam dengan budaya lokal. Tetapi untuk memahami bagaimana pesan Al-Qur’an dapat benar-benar hidup di tengah masyarakat yang kita jalani setiap hari. Sejarah menunjukkan bahwa Islam ketika datang ke Nusantara tidak bertemu dengan tanah yang kosong. Sudah ada masyarakat dengan adat, kepercayaan, bahasa, kesenian, dan kebiasaan yang beragam. Islam k...