Ada satu kebiasaan yang baru kusadari belakangan ini. Hampir setiap hari aku begitu sibuk menilai dunia, tetapi hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan pikiranku sendiri.
Aku tahu siapa yang salah di media sosial. Aku tahu siapa yang munafik, siapa yang sombong, siapa yang paling benar. Anehnya, aku jarang bertanya, "Mengapa aku begitu mudah marah?" atau "Dari mana sebenarnya rasa takut ini muncul?"
Barangkali perjalanan paling jauh bukan pergi ke gunung, bukan menyeberangi lautan, melainkan masuk ke dalam kepala sendiri.
Aku pernah mencoba duduk sendirian tanpa musik, tanpa ponsel, tanpa melakukan apa pun. Baru beberapa menit, pikiranku sudah berlari ke mana-mana. Mengingat percakapan kemarin. Mengkhawatirkan besok. Membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Rupanya selama ini bukan dunia yang ribut. Pikirankulah yang tidak pernah benar-benar diam.
Sejak saat itu aku mulai mencoba sesuatu yang sederhana. Bukan mengusir pikiran, bukan melawannya. Hanya melihatnya.
Saat muncul rasa iri, aku bertanya, "Kenapa aku iri?"
Saat muncul rasa marah, aku bertanya, "Apa yang sebenarnya terluka?"
Saat muncul rasa takut, aku bertanya lagi, "Apa yang sedang ingin kulindungi?"
Aku tidak selalu menemukan jawabannya. Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu perlahan membuatku lebih akrab dengan diriku sendiri.
Aku teringat ucapan Jiddu Krishnamurti, "Mengamati tanpa menghakimi adalah bentuk kecerdasan yang paling tinggi."
Kalimat itu sederhana, tetapi sulit dilakukan. Selama ini aku terbiasa menghakimi setiap pikiran yang datang. Pikiran buruk harus dibuang. Pikiran baik harus dipertahankan. Padahal mungkin pikiran hanya ingin dilihat, bukan diadili.
Semakin aku memperhatikan isi kepalaku, semakin aku sadar bahwa banyak hal yang selama ini kusebut "aku" ternyata hanyalah kebiasaan yang berulang. Hari ini aku marah, besok menyesal, lusa mengulanginya lagi. Seolah ada rekaman lama yang terus diputar tanpa kusadari.
Barangkali itulah sebabnya banyak filsuf mengatakan bahwa mengenal diri sendiri jauh lebih sulit daripada mengenal dunia.
Di depan cermin kita mudah melihat wajah. Tetapi untuk melihat isi pikiran, kita membutuhkan kejujuran.
Dan kejujuran sering kali menyakitkan.
Aku mulai melihat bahwa banyak keputusanku lahir bukan dari kebijaksanaan, melainkan dari rasa ingin diterima. Banyak pendapatku ternyata diwarisi begitu saja. Bahkan beberapa keyakinan yang selama ini kuanggap milikku sendiri, ternyata hanya suara-suara yang sudah lama tinggal di kepalaku.
Lalu aku teringat ucapan Osho, "Pikiran adalah pelayan yang baik, tetapi tuan yang buruk."
Mungkin selama ini aku membiarkan pelayan itu memimpin seluruh rumah.
Semakin lama memperhatikan pikiran, aku justru semakin jarang ingin menyalahkan orang lain. Karena aku tahu, setiap orang sedang membawa isi kepalanya masing-masing. Ada yang dipenuhi luka. Ada yang dipenuhi ketakutan. Ada yang dipenuhi harapan. Tidak semua kemarahan berasal dari kebencian. Kadang ia hanya lahir dari rasa sakit yang belum sempat dipeluk.
Aku juga teringat kalimat dari Lao Tzu, "Mengenal orang lain adalah pengetahuan, mengenal diri sendiri adalah kebijaksanaan."
Barangkali kebijaksanaan memang tidak datang dari membaca semakin banyak buku atau memenangkan semakin banyak perdebatan. Ia datang ketika seseorang mulai berani duduk bersama pikirannya sendiri, tanpa lari, tanpa berpura-pura.
Hari ini aku belum mengenal diriku sepenuhnya.
Masih ada ketakutan yang belum kupahami. Masih ada amarah yang sesekali muncul tanpa izin. Masih ada keinginan-keinginan yang membuatku lelah mengejarnya.
Tetapi sekarang aku tidak lagi ingin segera memperbaiki semuanya.
Aku hanya ingin terus belajar melihat.
Sebab mungkin perubahan terbesar tidak dimulai ketika kita berhasil mengubah dunia, melainkan ketika kita akhirnya berani menjadi saksi yang jujur bagi pikiran kita sendiri.
Komentar
Posting Komentar