Belakangan ini aku sering bertanya pada diri sendiri, kenapa rasanya hidup makin cepat? Padahal jam masih tetap dua puluh empat jam sehari. Matahari masih terbit dari timur. Langit masih berganti warna setiap sore. Yang berubah mungkin bukan waktunya, tetapi kita.
Aku ingat dulu, selesai bekerja rasanya memang selesai. Orang pulang, duduk di teras, mengobrol dengan tetangga, lalu tidur. Hari berganti begitu saja. Sekarang, selesai bekerja bukan berarti pekerjaan selesai. Masih ada pesan yang harus dibalas, ada notifikasi yang harus dibuka, ada kursus yang katanya harus diikuti, ada target yang terus bertambah. Bahkan ketika tubuh sedang rebah di kasur, pikiran masih sibuk mengejar sesuatu.
Aneh ya. Tidak ada yang benar-benar menyuruh kita.
Tidak ada orang yang berdiri di depan rumah sambil berkata, "Kamu harus lebih sukses." Tidak ada yang memaksa membuka media sosial berkali-kali dalam sehari. Tidak ada yang meminta kita membandingkan hidup dengan orang lain. Tetapi hampir setiap hari kita melakukannya sendiri.
Kadang aku membuka ponsel hanya untuk mencari hiburan. Lima menit kemudian, entah kenapa aku malah merasa hidupku kurang. Melihat teman membeli rumah, aku ingin rumah. Melihat orang lain pergi umrah, aku ingin ikut. Melihat seseorang membuka usaha, aku merasa terlambat memulai. Padahal sebelum membuka ponsel, semuanya baik-baik saja.
Rupanya lelah tidak selalu datang karena pekerjaan. Kadang lelah datang karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain.
Aku mulai sadar, mungkin yang paling sering menekan diriku bukan atasan, bukan keluarga, bukan keadaan. Justru diriku sendiri. Aku terus berkata, "Sedikit lagi." Sedikit lagi uangnya. Sedikit lagi ilmunya. Sedikit lagi pengikutnya. Sedikit lagi pengakuannya. Anehnya, kata "sedikit lagi" itu tidak pernah selesai.
Lalu aku teringat seorang bapak penjual gorengan di dekat rumah. Hampir setiap sore ia duduk di kursi kayu sambil melayani pembeli. Kalau dagangannya habis, ia tersenyum, membereskan gerobaknya, lalu pulang. Tidak pernah kulihat ia tergesa-gesa mengejar sesuatu yang jauh di depan. Besok ia datang lagi, menjalani hari yang hampir sama, dan wajahnya tetap tenang.
Aku bukan sedang mengatakan bahwa kita tidak perlu punya cita-cita. Bukan itu. Yang membuat kita letih sering kali bukan impian, tetapi keyakinan bahwa kita harus selalu lebih dari hari kemarin. Kita tidak memberi kesempatan pada diri sendiri untuk merasa cukup.
Barangkali karena itulah kita sulit menikmati secangkir kopi. Saat meminumnya, pikiran sudah berada di rapat besok pagi. Kita sulit menikmati makan malam bersama keluarga karena mata terus melirik layar ponsel. Kita bahkan sulit menikmati liburan karena sibuk mencari sudut terbaik untuk difoto.
Mungkin kita tidak kehilangan waktu. Kita kehilangan kemampuan untuk hadir.
Sesekali aku ingin hidup seperti anak kecil yang duduk memandangi hujan tanpa merasa sedang membuang waktu. Atau seperti orang tua yang menikmati angin sore tanpa merasa harus menghasilkan sesuatu.
Semakin kupikirkan, hidup ternyata bukan perlombaan yang garis akhirnya bernama "sukses". Sebab setiap kali garis itu tercapai, selalu muncul garis baru di depannya.
Mungkin yang benar-benar kita cari selama ini bukan keberhasilan yang lebih besar, melainkan hati yang lebih ringan. Dan hati yang ringan barangkali lahir bukan ketika kita memiliki lebih banyak, tetapi ketika kita berhenti sejenak, menarik napas, lalu berkata kepada diri sendiri, "Hari ini sudah cukup."
Komentar
Posting Komentar