“Ketinggalan kereta hanya akan menyakitkan ketika kamu mengejarnya.” Saya menulis kalimat itu di halaman belakang buku catatan, entah untuk siapa. Mungkin untuk diri sendiri. Mungkin untuk seseorang yang pernah pergi tanpa sempat saya tahan. Atau mungkin untuk semua kereta yang pernah saya tunggu dengan cemas, lalu berangkat tepat ketika saya baru saja sampai di peron. Siang itu stasiun sedang ramai. Orang-orang berlarian membawa koper, tas, kardus, dan wajah-wajah yang dikejar waktu. Saya berdiri agak jauh dari papan keberangkatan. Kereta baru saja meninggalkan peron. Saya terlambat. Tidak banyak. Hanya beberapa menit. Tetapi beberapa menit kadang bisa menjadi jurang yang lebih lebar daripada bertahun-tahun. Saya sempat berlari. Napas tersengal. Sepatu hampir copot. Petugas sudah memberi tanda. Pintu kereta menutup. Saya melihat gerbong terakhir menjauh perlahan, seperti seseorang yang tahu saya masih berharap tetapi memilih tidak menoleh. Aneh, pikir saya, mengapa sesuatu yang sudah ...