Banyak orang berangkat umroh dan haji dengan harapan pulang sebagai manusia baru: lebih sabar, lebih lembut, lebih jujur, dan lebih peduli. Namun kenyataan sering kali tidak sesederhana itu. Umroh dan haji bukan penentu otomatis kualitas akhlak seseorang, apalagi jaminan kemajuan peradaban Islam. Ia bisa menjadi titik balik, tapi juga bisa berhenti sebagai pengalaman spiritual yang selesai di bandara kepulangan. Setelah berkali-kali melihat pola yang sama. Ada yang baru pulang dari Tanah Suci, gelarnya bertambah “Haji”, tapi cara bicaranya masih merendahkan, cara berbisnisnya tetap licik, cara memperlakukan orang lain tak berubah. Dari sudut pandang psikologi, ini bisa dipahami. Perjalanan spiritual yang intens tidak selalu diikuti integrasi psikologis. Emosi haru, rasa takzim, dan euforia religius sering bersifat sementara jika tidak dibarengi refleksi dan perubahan perilaku sadar. Dalam psikologi, dikenal istilah spiritual bypassing: seseorang menggunakan pengalaman religius untuk me...