Langsung ke konten utama

Postingan

Sudah Umroh dan Haji Tetapi Tetap Korupsi

Banyak orang berangkat umroh dan haji dengan harapan pulang sebagai manusia baru: lebih sabar, lebih lembut, lebih jujur, dan lebih peduli. Namun kenyataan sering kali tidak sesederhana itu. Umroh dan haji bukan penentu otomatis kualitas akhlak seseorang, apalagi jaminan kemajuan peradaban Islam. Ia bisa menjadi titik balik, tapi juga bisa berhenti sebagai pengalaman spiritual yang selesai di bandara kepulangan. Setelah berkali-kali melihat pola yang sama. Ada yang baru pulang dari Tanah Suci, gelarnya bertambah “Haji”, tapi cara bicaranya masih merendahkan, cara berbisnisnya tetap licik, cara memperlakukan orang lain tak berubah. Dari sudut pandang psikologi, ini bisa dipahami. Perjalanan spiritual yang intens tidak selalu diikuti integrasi psikologis. Emosi haru, rasa takzim, dan euforia religius sering bersifat sementara jika tidak dibarengi refleksi dan perubahan perilaku sadar. Dalam psikologi, dikenal istilah spiritual bypassing: seseorang menggunakan pengalaman religius untuk me...

Kehilangan Keyakinan terhadap Agama dan Tuhan

Pagi itu, di barisan sajadah yang hampir kosong, Amir berhenti bergerak. Tangannya terangkat setengah, lalu turun perlahan. Ia tidak lagi ingat doa apa yang sedang dibaca. Bukan karena lupa, melainkan karena tiba-tiba ia bertanya dalam hati: kepada siapa sebenarnya aku sedang berbicara? Pertanyaan itu datang tanpa izin, di tengah ritual yang telah ia lakukan bertahun-tahun tanpa ragu. Beberapa hari sebelumnya, Amir kehilangan keyakinannya—bukan karena marah pada Tuhan, bukan pula karena kecewa pada agama, tetapi karena kejujuran. Ia lelah berpura-pura yakin pada sesuatu yang tak lagi ia rasakan. Semua kata tentang surga, pahala, dan dosa terdengar seperti gema lama yang tidak menyentuh batinnya. Namun anehnya, ia tidak berhenti datang ke masjid. Tubuhnya masih hadir, hanya keyakinannya yang absen. Sejak saat itu, agama baginya berubah bentuk. Ia tetap berdoa, tetapi tidak lagi meminta. Ia duduk dalam diam, mendengarkan napasnya sendiri, memperhatikan pikiran yang datang dan pergi. Tanp...

Bagaimana Jika Agama dan Tuhan Tanpa Disertai Keyakinan?

Agama dan Tuhan hampir selalu hadir dalam kehidupan manusia sebagai sesuatu yang diyakini. Sejak kecil, manusia diperkenalkan pada nama Tuhan, aturan ibadah, doa, dan kisah-kisah suci yang membentuk cara pandang tentang makna hidup. Keyakinan memberi rasa aman, arah, dan identitas. Namun di balik itu, muncul pertanyaan filsafat yang jarang diajukan dengan jujur: apakah Tuhan hanya bisa didekati melalui keyakinan? Atau mungkinkah agama dan Tuhan dipahami tanpa harus percaya lebih dulu? Dalam perjalanan sejarah, agama lahir dari pengalaman eksistensial manusia menghadapi ketakutan, kematian, dan keterbatasan. Ketika manusia tidak mampu menjelaskan alam, penderitaan, dan nasib, keyakinan menjadi jawaban. Tuhan dipersonifikasikan, diberi sifat, aturan, dan kehendak. Dari sini, agama berkembang sebagai sistem: dogma, ritual, hukum, dan otoritas. Perlahan, Tuhan yang seharusnya menjadi misteri justru berubah menjadi konsep yang diwariskan, dipertahankan, dan dibela. Di titik ini, keyakinan s...