Langsung ke konten utama

Belajar Melihat Islam dari Sejarah, Bukan Hanya dari Mimbar

Beberapa bulan terakhir, aku cukup sering mendengarkan podcast Mun'im Sirry dan Al Makin. Awalnya hanya karena penasaran. Lama-kelamaan aku sadar, yang mereka lakukan bukan sedang mengajak orang meninggalkan agama, tetapi mengajak melihat agama dari jendela yang lebih lebar.

Selama ini aku tumbuh dengan keyakinan bahwa Islam adalah sesuatu yang sudah selesai. Seolah semua jawaban sudah tersedia, tinggal diterima dan dijalankan. Tapi setelah membaca beberapa tulisan mereka, muncul pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan: bagaimana kalau yang selama ini kuanggap sebagai "Islam" ternyata lebih banyak merupakan hasil tafsir manusia daripada agama itu sendiri?

Mun'im Sirry berkali-kali mengingatkan bahwa wahyu dan tafsir adalah dua hal yang berbeda. Wahyu diyakini berasal dari Tuhan, tetapi begitu wahyu dipahami, dijelaskan, diterjemahkan, lalu dijadikan hukum, semuanya sudah memasuki wilayah manusia. Dan manusia, sebagaimana kita tahu, selalu membawa pengalaman, kepentingan, budaya, bahkan prasangkanya sendiri.

Aku jadi teringat perdebatan yang sering muncul di media sosial. Orang saling mengutip ayat, saling menyalahkan, bahkan merasa sedang membela Tuhan. Padahal mungkin yang sedang dipertahankan bukan firman Tuhan, melainkan tafsir yang diwarisi dari guru, organisasi, atau lingkungan tempat ia dibesarkan.

Al Makin membawaku melihat sisi lain yang tidak kalah menarik. Ia sering menjelaskan bahwa Islam lahir bukan di ruang kosong. Jazirah Arab saat itu sudah dipenuhi tradisi Yahudi, Kristen, penyembah berhala, dan berbagai kepercayaan lokal. Artinya, sejak awal Islam berdialog dengan budaya, bukan datang menghapus semua yang sudah ada. Sejarah agama ternyata jauh lebih cair daripada yang kubayangkan.

Lalu aku melihat Indonesia.

Kenapa Islam di Jawa berbeda dengan Islam di Aceh? Kenapa ada yang menganggap tahlilan bagian dari agama, sementara yang lain menyebutnya bid'ah? Kenapa cara berpakaian Muslim di Indonesia berbeda dengan di Maroko atau Turki? Kalau dipikir-pikir, semua itu menunjukkan bahwa agama memang selalu bertemu dengan budaya. Yang berubah adalah cara manusia menghidupinya, bukan semata-mata ajarannya.

Di titik itu aku mulai memahami mengapa filsafat dan antropologi penting. Keduanya tidak datang untuk meruntuhkan iman, tetapi membantu kita memahami mengapa manusia bisa memiliki keyakinan yang berbeda-beda. Agama tidak pernah hidup sendirian. Ia selalu berjalan bersama sejarah, politik, bahasa, tradisi, bahkan kekuasaan.

Semakin banyak membaca, justru aku semakin sulit mengatakan, "Inilah Islam yang paling benar." Bukan karena kehilangan keyakinan, tetapi karena semakin sadar betapa panjang perjalanan sebuah tafsir. Apa yang hari ini dianggap mutlak, mungkin dulu pernah menjadi pendapat minoritas. Apa yang sekarang disebut tradisi, mungkin lahir dari kebutuhan sosial pada zamannya.

Mungkin memang di situlah letak kedewasaan beragama. Bukan merasa paling dekat dengan Tuhan, tetapi cukup rendah hati untuk mengakui bahwa yang kita pahami belum tentu sama dengan apa yang Tuhan maksudkan.

Sekarang aku juga percaya bahwa setiap kali manusia berbicara tentang Tuhan, ia selalu membawa dirinya sendiri ke dalam percakapan itu. Barangkali karena itulah sejarah Islam bukan hanya cerita tentang wahyu yang turun dari langit, tetapi juga cerita tentang manusia yang terus berusaha memahaminya, dengan segala keterbatasan, keberanian, dan kesalahannya.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...