Langsung ke konten utama

Aktivis Dakwah yang Berubah menjadi Kaum Liberal

Jadi gini.
Hidup itu lucu. Dulu, waktu kuliah, Bima adalah definisi role model versi dakwah kampus: ngomongnya berat, jalannya lurus, dan kalau marah matanya bisa bikin mading rohis bergetar. Dia hafal ayat, hafal orasi, dan hafal nama semua tokoh pergerakan Islam abad 20. Pokoknya, kalau ada “serangan pemikiran” di kampus, dia yang maju duluan.

Sekarang?
Ya Tuhan.
Yang tersisa dari “pejuang akidah” itu cuma akun Instagram dengan bio: Freedom is my only religion.

Postingannya? Seperti kuliah filsafat yang ditulis anak magang—nggak jelas, tapi banyak yang merasa keren. Dia pernah nulis, “Tuhan mungkin mati, tapi kopi susu dan rokok linting akan selalu hidup.” Lalu upload foto dirinya di bar, lengkap dengan ekspresi look at me, I’m profound.

Aku nggak tahu kapan tepatnya dia pindah keyakinan—atau pindah kesetiaan. Katanya sih, semua berawal waktu kerja di NGO internasional, ketemu orang-orang liberal dari lima benua. Dari situ, Bima mulai “melepaskan” semua beban moral kampus. Katanya, hidup harus bebas dari “tirani dogma”.

Oke, kedengarannya keren.
Sampai kamu lihat dia jadi influencer mini, jual kaos bergambar Nietszche, sambil buka kelas online “Berpikir Kritis” seharga satu juta per sesi.

Yang paling bikin nyebelin, dia nggak pernah nyuruh kita ikut jalannya… tapi cara dia menulis itu kayak tone “gue udah tercerahkan, kalian cuma penonton di gua Plato”. Setiap ada yang nyanggah, dia cuma bales: “Mungkin kamu perlu membaca lebih banyak.” Lalu kasih daftar buku setebal skripsi hukum.

Di reuni kemarin, Bima datang telat satu jam, pakai jaket kulit bau asap, dan menyapa semua orang kayak bintang tamu di festival film. Dia peluk aku, terus bilang, “Masih rajin sholat?”—nada suaranya kayak nanya, “Masih main kelereng?”.

Dia cerita tentang hidupnya sekarang: tinggal di apartemen kecil, tulis opini untuk media asing, kadang jadi pembicara di seminar HAM, dan… oh, dia lagi bikin novel. “Tentang tokoh fiksi yang kehilangan Tuhan, lalu menemukan kejujuran,” katanya sambil menatap kosong. Aku hampir ketawa.

Pulang dari reuni itu, aku cuma bisa mikir: mungkin kita yang terlalu mengira orang akan selamanya sama. Atau mungkin, Bima yang terlalu butuh dunia percaya dia berubah jadi “versi lebih baik”.

Yang jelas, setiap aku lihat postingannya, aku nggak tahu harus mute, unfollow, atau screenshot lalu kirim ke grup alumni buat dibahas rame-rame. Karena sejujurnya… di balik semua rasa sebel itu, aku penasaran: kalau Bima bisa berubah sejauh itu, siapa yang bilang aku nggak bisa?

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...