Langsung ke konten utama

Dewa Eka Prayoga Poligami?

Sebenarnya saya sudah malas untuk mereview hidup orang lain, apalagi orang yang terkenal semacam Dewa Eka Prayoga (DEP), etapi boong, wkwk. Btw, jauh sebelum menulis ini, saya pernah diteror oleh pengikutnya Bossman Mardigu Wowiek Prasetyo sejak menulis tentang dirinya, ditambah teman yang ikutan komentar pun di inbox dan diteror oleh pengikutnya. Mardigu sendiri hanya berkomentar luar biasa di tulisan tersebut, tidak disangka ternyata itu cara dia untuk memberikan kode intelijen yang menggerakan para fans fanatiquenya. Ih, serem deh...


Gelombang kepo saya menguat ketika di fanspage facebook milik DEP ini ramai bahwa setiap komentar yang menyudutkan DEP dihapus oleh admin fanspage. Mulailah saya bertanya kepada netizen yang menjulid di sana, untungnya saya tidak dibalas dengan jawaban, kamu nanyea? kamu bertanya tanyea. Mereka langsung membalas bahwa DEP melakukan poligami tanpa seizin istri pertama, kabar lain mengatakan sudah cerai dari istri pertamanya karena ketahuan poligami. Ada lagi yang menambahkan kasus penipuan perumahan syariah yang korbannya kehilangan uang ratusan juta.

Sampai sini saya mencukupkan gelombang kepo saya dan coba mengecek di instagram lambe turah ternyata belum ada berita DEP, setelah itu saya cek instagram DEP ternyata di situ saya melihat melownya sang coach yang diidolakan oleh banyak teman saya ini, bahkan sampai semua kolom komentarnya ditutup. Oiya, saya yang terbaru beliau ini memberikan pin qoute kerennya yang berisi sindirian, Orang yang doyan ghibah dan fitnah biasanya gak punya temen, kecuali yang sejenis. Duh kok saya teringat dengan kisah poligami Aa Gym plus Yusuf Mansur dengan "sedekahnya" yang berhasil menjatuhkan pamor ketenaran beliau.

Saya juga berkomentar di fanspagenya DEP begini, bagaimana kang seru gak kang? bagaimana rasanya? coba dong kasih kami quote-quote kerennya buat nyindir kami dan seharusnya bisa juga untuk nyindiri diri sendiri. Walhasil komentar ini dikasih emoticon ketawa oleh umahat yang ada di sana. DEP ini suka menyindir dan nyinyir dengan quote motivasinya, jadi sangat wajar kalau mendapat balasan hal yang serupa sekaligus Allah sedang menguji setiap perkataan motivasinya dengan cobaan hidup seperti saat ini, sayangnya beliau pun belum memberikan tabayun dalam bentuk tulisan atau video. Saya curiga akibat kejadian ini, jangan-jangan nanti DEP membuat dauroh poligami agar mengubah kerugian menjadi cuan. Cuaks

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...