Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Penyebab Mereka yang mengatakan Babi itu Haram, Tetapi ada yang Boleh Makan

Larangan memakan babi di Timur Tengah sering dipahami sebagai perintah agama yang berdiri sendiri, tegas, dan final. Dalam Cows, Pigs, Wars, and Witches, Marvin Harris mengajak pembaca melihatnya dari arah yang berbeda: bukan semata sebagai doktrin, melainkan sebagai jejak cara manusia bertahan hidup di tanah yang keras dan kering. Dari sana, kita melihat gambaran besar lebih dulu—bahwa larangan itu mungkin lahir dari kebutuhan hidup—baru kemudian turun pada cerita manusia dan batin mereka. Bayangkan hamparan padang tandus di wilayah Arab berabad-abad lalu. Air terbatas, tanaman tidak mudah tumbuh, dan kehidupan banyak bergantung pada hewan yang mampu berjalan jauh mencari makan. Kambing dan domba menjadi sahabat perjalanan; unta menjadi penopang hidup. Di tengah kondisi seperti itu, babi bukan pilihan yang bijak. Ia membutuhkan air lebih banyak, tidak kuat berjalan jauh, dan makanannya bersaing langsung dengan makanan manusia. Dalam keadaan sulit, memelihara babi bisa menjadi beban. D...

Memproses Luka Batin

Luka batin tidak pernah datang dengan suara keras. Ia sering masuk seperti senja—pelan, meredupkan warna-warna tanpa kita sadar kapan tepatnya cahaya itu hilang. Saya pernah mengira kehilangan adalah peristiwa satu hari: hari ketika kabar itu datang, hari ketika seseorang tak lagi menjawab pesan, hari ketika kursi di ruang tamu kosong. Ternyata saya keliru. Kehilangan bukan satu hari. Ia adalah musim yang panjang. Awalnya saya merasa baik-baik saja. Saya masih bisa bercanda, masih bisa bekerja, masih bisa duduk bersama orang lain tanpa menangis. Tetapi ada sesuatu yang bergeser. Setiap kali malam datang, dada terasa lebih berat. Pikiran seperti memutar ulang adegan-adegan kecil: percakapan terakhir, tawa yang dulu terdengar biasa saja, pesan singkat yang sekarang terasa berharga. Saya mencoba mengusirnya dengan kesibukan. Semakin sibuk, semakin terlihat kuat. Namun ketika sunyi datang, luka itu seperti membuka pintu yang saya tutup rapat sepanjang hari. Memproses luka ternyata tidak se...

Hidup harus Bertetangga, Kalau Meninggal Siapa yang Nguburin?

Di sebuah gang kecil, seorang lelaki tua meninggal pada sore yang tenang. Azan magrib belum selesai ketika kabar itu menyebar dari mulut ke mulut. Istrinya sudah lama tiada. Anak-anaknya merantau. Yang pertama datang justru bukan keluarga, melainkan tetangga yang rumahnya bersebelahan, orang yang selama ini hanya bertegur sapa seperlunya. Tubuhnya dibaringkan di ruang tamu yang sederhana. Tikar digelar. Air disiapkan. Seseorang menghubungi pengurus masjid. Seseorang lagi meminjamkan kain kafan. Dalam beberapa jam, rumah yang biasanya sepi itu dipenuhi langkah kaki dan suara lirih doa. Kematian, seperti biasa, menjadi urusan orang-orang yang masih hidup. Saya pernah mendengar kalimat yang sering diucapkan orang tua di kampung: “Jangan sampai kita tidak dikenal tetangga, nanti kalau meninggal siapa yang mengurus?” Kalimat itu terdengar seperti nasihat yang masuk akal, tapi juga menyimpan ketakutan yang diam-diam. Seolah-olah hubungan dengan orang lain dibangun bukan karena ingin saling m...

Psikologi Uang dan Kekayaan

Banyak orang percaya bahwa semakin besar loncatan, semakin besar pula peluangnya. Itulah paradoks yang sering muncul dalam urusan uang: jarak yang lebar justru terasa lebih meyakinkan daripada langkah kecil yang pasti. Anehnya, orang yang sudah terbukti mampu mengumpulkan uang secara pelan dan disiplin justru bisa lebih mudah percaya pada janji kekayaan besar yang instan. Aku pernah melihatnya dari dekat. Seorang kenalan bertahun-tahun menabung sampai akhirnya terkumpul tiga puluh juta rupiah. Ia bukan orang yang boros. Ia tahu caranya menyisihkan uang, menahan diri, dan sabar. Prosesnya lambat tapi nyata. Setiap angka di rekeningnya punya cerita: lembur, menunda liburan, menahan keinginan beli barang baru. Namun suatu hari ia bercerita dengan mata berbinar, “Ada cara dapat satu miliar. Cepat. Katanya sistemnya sudah terbukti.” Ia menjelaskan dengan semangat yang tak pernah kulihat saat ia bicara soal menabung. Ada sesuatu yang berubah. Angka satu miliar membuat tiga puluh juta terasa ...

Tidak Jadi Apa-Apapun, Dunia Baik-Baik saja

Dulu, aku benar-benar percaya hidup harus punya misi besar. Di catatan harianku, aku menulis mimpi dengan penuh keyakinan: suatu hari aku akan mengubah dunia. Aku membayangkan diriku berdiri di depan banyak orang, bicara lantang, kalimat-kalimatku dicatat, disebarkan, lalu menggerakkan sesuatu. Entah sebagai trainer, pendakwah, atau apa pun namanya. Yang penting: aku berarti. Tahun-tahun berlalu, tapi hidup tidak bergerak ke arah panggung besar itu. Aku tetap orang biasa. Bangun pagi, mengurus pekerjaan, pulang dengan kepala lelah. Sesekali menulis, sesekali berbagi, tapi dunia tetap berjalan tanpa menoleh. Awalnya aku merasa tertinggal. Seperti ada janji pada diri sendiri yang gagal kutepati. Aku mulai membandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Mereka terlihat melaju, dikenal, dielu-elukan. Sementara aku seperti berhenti di tempat. Ada hari-hari ketika aku bertanya dalam diam, “Apa gunanya aku ada kalau tidak membawa perubahan besar?” Sampai suatu waktu, aku lelah mengejar gambara...

Tidak Harus Menikah, Bukan?

Ia adalah teman kuliahku dulu. Kami lulus hampir bersamaan, ikut wisuda di gedung yang sama, berfoto dengan toga yang sama, lalu hidup membawa kami ke arah yang berbeda. Sekarang, ketika reuni kecil-kecilan terjadi, hampir semua datang berpasangan. Ia datang sendiri. Bukan karena tidak laku, bukan pula karena anti pernikahan. Ia hanya belum menikah—di usia yang oleh banyak orang disebut “tidak lagi muda”. Di setiap pertemuan, pertanyaan itu selalu muncul, meski dibungkus bercanda. “Masih betah sendiri?” atau “Kapan nyusul?” Ia tertawa kecil, menanggapi seperlunya. Setelah itu, obrolan beralih ke cicilan rumah, anak, dan sekolah favorit. Ia mendengarkan dengan sopan, lalu menyesap kopi, seolah semua baik-baik saja. Padahal aku tahu ceritanya tidak sesederhana itu. Ia pernah berusaha. Dikenalkan ke sana-sini, mencoba membuka diri, menurunkan banyak standar yang dulu dianggap penting. Ada hubungan yang bertahan beberapa bulan, ada yang putus sebelum sempat disebut pacaran. Bukan karena dr...