Dulu, aku benar-benar percaya hidup harus punya misi besar. Di catatan harianku, aku menulis mimpi dengan penuh keyakinan: suatu hari aku akan mengubah dunia. Aku membayangkan diriku berdiri di depan banyak orang, bicara lantang, kalimat-kalimatku dicatat, disebarkan, lalu menggerakkan sesuatu. Entah sebagai trainer, pendakwah, atau apa pun namanya. Yang penting: aku berarti.
Tahun-tahun berlalu, tapi hidup tidak bergerak ke arah panggung besar itu. Aku tetap orang biasa. Bangun pagi, mengurus pekerjaan, pulang dengan kepala lelah. Sesekali menulis, sesekali berbagi, tapi dunia tetap berjalan tanpa menoleh. Awalnya aku merasa tertinggal. Seperti ada janji pada diri sendiri yang gagal kutepati.
Aku mulai membandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Mereka terlihat melaju, dikenal, dielu-elukan. Sementara aku seperti berhenti di tempat. Ada hari-hari ketika aku bertanya dalam diam, “Apa gunanya aku ada kalau tidak membawa perubahan besar?”
Sampai suatu waktu, aku lelah mengejar gambaran itu. Lelah menuntut diri sendiri menjadi sesuatu yang belum tentu cocok. Aku berhenti sejenak dan memperhatikan sekitar. Anehnya, tanpa aku menjadi siapa-siapa, dunia baik-baik saja. Matahari tetap terbit. Orang-orang tetap mencintai, bertengkar, berdamai, lalu melanjutkan hidup. Tidak ada yang runtuh hanya karena aku tidak menjadi tokoh penting.
Kesadaran itu awalnya pahit, lalu pelan-pelan terasa melegakan. Aku menyadari betapa banyak energi terkuras hanya untuk mengejar pengakuan. Betapa sering aku lupa hadir di hidupku sendiri karena sibuk membayangkan hidup orang lain.
Sejak itu, aku mulai berjalan lebih pelan. Melakukan hal-hal kecil tanpa perlu merasa semuanya harus berdampak besar. Mendengarkan cerita teman tanpa ingin memberi ceramah. Menulis tanpa berharap disukai banyak orang. Bekerja dengan sungguh-sungguh meski tak ada tepuk tangan.
Aku mulai menikmati hidup apa adanya. Bukan hidup versi impian lama, tapi hidup yang benar-benar sedang kujalani. Ada hari-hari biasa, ada hari-hari berat, ada hari-hari kosong. Dan semuanya terasa sah.
Kini aku tahu, tidak menjadi siapa pun bukan kegagalan. Tidak semua orang ditakdirkan berdiri di depan lampu sorot. Ada yang cukup hidup dengan tenang, jujur, dan hadir sepenuhnya. Dunia tidak menuntutku menjadi besar. Dunia hanya berjalan.
Dan di tengah dunia yang tetap baik-baik saja itu, aku akhirnya belajar untuk juga baik-baik saja.
Komentar
Posting Komentar