Di sebuah gang kecil, seorang lelaki tua meninggal pada sore yang tenang. Azan magrib belum selesai ketika kabar itu menyebar dari mulut ke mulut. Istrinya sudah lama tiada. Anak-anaknya merantau. Yang pertama datang justru bukan keluarga, melainkan tetangga yang rumahnya bersebelahan, orang yang selama ini hanya bertegur sapa seperlunya.
Tubuhnya dibaringkan di ruang tamu yang sederhana. Tikar digelar. Air disiapkan. Seseorang menghubungi pengurus masjid. Seseorang lagi meminjamkan kain kafan. Dalam beberapa jam, rumah yang biasanya sepi itu dipenuhi langkah kaki dan suara lirih doa. Kematian, seperti biasa, menjadi urusan orang-orang yang masih hidup.
Saya pernah mendengar kalimat yang sering diucapkan orang tua di kampung: “Jangan sampai kita tidak dikenal tetangga, nanti kalau meninggal siapa yang mengurus?” Kalimat itu terdengar seperti nasihat yang masuk akal, tapi juga menyimpan ketakutan yang diam-diam. Seolah-olah hubungan dengan orang lain dibangun bukan karena ingin saling mengenal, melainkan sebagai jaminan agar suatu hari tubuh kita tidak terbengkalai.
Namun sore itu saya melihat hal lain. Lelaki tua itu bukan orang yang aktif berkumpul. Ia jarang ikut ronda. Tidak sering hadir di acara-acara. Ia bukan sosok yang akrab dalam percakapan panjang. Tapi ketika ia meninggal, orang-orang tetap datang. Bukan karena ia rajin menyapa, melainkan karena ada sesuatu yang lebih sederhana: ia adalah bagian dari lingkungan itu. Dan kematian selalu memanggil rasa kemanusiaan yang sering tertidur.
Kita sering membayangkan hidup bertetangga sebagai investasi sosial. Semakin intens kita hadir, semakin besar jaminan kita akan diperlakukan baik. Ada sebab akibat yang kita susun rapi di kepala: kalau sering membantu, nanti saat kita susah akan dibantu. Kalau rajin hadir, nanti saat kita tiada akan diurus dengan layak. Seolah-olah kebaikan adalah tabungan yang bisa dicairkan di hari kematian.
Padahal kematian tidak pernah sesederhana itu.
Tubuh yang sudah tidak bernyawa tidak lagi membutuhkan pengakuan. Ia tidak tahu siapa yang memandikan, siapa yang menggali liang lahat. Yang sibuk adalah mereka yang ditinggalkan—yang merasa kehilangan, yang merasa punya tanggung jawab, atau sekadar merasa tidak tega membiarkan sesama manusia pergi sendirian.
Di banyak tempat, mengurus jenazah bukan sekadar kewajiban agama atau adat. Ia adalah cermin dari cara sebuah komunitas melihat dirinya sendiri. Ketika seseorang meninggal, yang diuji bukan almarhum, melainkan orang-orang yang masih hidup: apakah mereka masih memiliki kepedulian, apakah mereka masih sanggup berkumpul untuk sesuatu yang tidak memberi keuntungan apa-apa.
Saya mulai mengerti bahwa hubungan dengan tetangga tidak perlu selalu intens, apalagi dipelihara oleh rasa takut. Kita tidak harus memaksakan diri hadir di setiap obrolan agar kelak ada yang menggali kubur kita. Kedekatan yang dipaksakan demi jaminan masa depan justru terasa hampa.
Yang lebih penting mungkin adalah hidup dengan wajar dan tidak menyakiti. Menyapa jika bertemu. Membantu jika mampu. Tidak perlu berlebihan, tidak perlu dramatis. Sebab pada akhirnya, ketika kematian datang, dunia tidak berhenti. Orang-orang akan bergerak, mengurus, lalu pulang ke rumah masing-masing.
Kematian adalah peristiwa sunyi bagi yang pergi, tapi ramai bagi yang tinggal. Dan mungkin di situlah letak kejujurannya: kita tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain memperlakukan tubuh kita kelak. Yang bisa kita lakukan hanya hidup dengan tenang hari ini, tanpa menjadikan kematian sebagai alasan untuk bersandiwara dalam hubungan.
Karena pada akhirnya, yang mengubur bukanlah mereka yang paling sering kita temui, melainkan mereka yang masih memiliki hati untuk peduli.
Komentar
Posting Komentar