Luka batin tidak pernah datang dengan suara keras. Ia sering masuk seperti senja—pelan, meredupkan warna-warna tanpa kita sadar kapan tepatnya cahaya itu hilang. Saya pernah mengira kehilangan adalah peristiwa satu hari: hari ketika kabar itu datang, hari ketika seseorang tak lagi menjawab pesan, hari ketika kursi di ruang tamu kosong. Ternyata saya keliru. Kehilangan bukan satu hari. Ia adalah musim yang panjang.
Awalnya saya merasa baik-baik saja. Saya masih bisa bercanda, masih bisa bekerja, masih bisa duduk bersama orang lain tanpa menangis. Tetapi ada sesuatu yang bergeser. Setiap kali malam datang, dada terasa lebih berat. Pikiran seperti memutar ulang adegan-adegan kecil: percakapan terakhir, tawa yang dulu terdengar biasa saja, pesan singkat yang sekarang terasa berharga. Saya mencoba mengusirnya dengan kesibukan. Semakin sibuk, semakin terlihat kuat. Namun ketika sunyi datang, luka itu seperti membuka pintu yang saya tutup rapat sepanjang hari.
Memproses luka ternyata tidak semudah “menerima.” Kata itu sering terdengar ringan di mulut orang lain. “Sudah, ikhlaskan saja.” Seolah hati ini tombol yang bisa ditekan untuk berhenti merasa. Padahal ada bagian dari diri yang belum siap melepaskan. Ada rasa marah karena ditinggalkan, ada rasa bersalah karena merasa kurang melakukan sesuatu, ada rindu yang tidak punya alamat. Semua bercampur seperti air keruh, dan saya sendiri tidak tahu mana yang harus disaring lebih dulu.
Saya menyadari, kesulitan terbesar bukan pada kehilangan itu sendiri, melainkan pada keberanian untuk duduk diam bersama rasa sakitnya. Kita terbiasa lari. Kita diajari untuk kuat, untuk tegar, untuk segera bangkit. Tetapi tidak ada yang benar-benar mengajarkan bagaimana caranya duduk di samping luka tanpa ingin segera menyembuhkannya. Padahal setiap kali saya mencoba menyingkirkannya terlalu cepat, ia kembali dengan cara yang lebih keras—lewat emosi yang meledak tiba-tiba atau kelelahan yang tidak jelas sebabnya.
Ada malam ketika saya akhirnya berhenti melawan. Saya membiarkan diri menangis tanpa alasan yang rapi. Saya mengakui bahwa saya rindu, bahwa saya kecewa, bahwa saya takut sendirian. Aneh rasanya, tetapi di situlah ada sedikit kelonggaran. Seperti simpul yang perlahan mengendur ketika tidak lagi ditarik paksa. Luka itu tidak hilang, tetapi ia tidak lagi terasa seperti musuh.
Dalam keheningan, saya mulai melihat bahwa kehilangan mengubah cara saya memandang hidup. Hal-hal kecil menjadi lebih berarti. Percakapan sederhana terasa lebih hangat. Saya belajar bahwa setiap pertemuan selalu membawa kemungkinan perpisahan. Bukan untuk membuat saya takut, tetapi untuk membuat saya lebih hadir. Lebih sungguh-sungguh saat mendengar, lebih jujur saat mengatakan sayang.
Memproses luka batin memang tidak lurus jalannya. Kadang hari ini terasa kuat, besok kembali rapuh. Tetapi perlahan saya memahami bahwa kesembuhan bukan berarti melupakan. Ia lebih seperti berdamai—mengizinkan kenangan tetap ada tanpa membuatnya terus berdarah. Kehilangan tidak lagi menjadi lubang yang menelan, melainkan ruang sunyi yang mengajarkan saya tentang cinta, tentang keterbatasan, dan tentang betapa berharganya waktu.
Mungkin luka memang tidak dimaksudkan untuk segera selesai. Ia adalah bagian dari menjadi manusia—rapuh, mencintai, dan pada akhirnya belajar melepaskan dengan tangan yang gemetar namun tulus.
Komentar
Posting Komentar