Ia adalah teman kuliahku dulu. Kami lulus hampir bersamaan, ikut wisuda di gedung yang sama, berfoto dengan toga yang sama, lalu hidup membawa kami ke arah yang berbeda. Sekarang, ketika reuni kecil-kecilan terjadi, hampir semua datang berpasangan. Ia datang sendiri. Bukan karena tidak laku, bukan pula karena anti pernikahan. Ia hanya belum menikah—di usia yang oleh banyak orang disebut “tidak lagi muda”.
Di setiap pertemuan, pertanyaan itu selalu muncul, meski dibungkus bercanda. “Masih betah sendiri?” atau “Kapan nyusul?” Ia tertawa kecil, menanggapi seperlunya. Setelah itu, obrolan beralih ke cicilan rumah, anak, dan sekolah favorit. Ia mendengarkan dengan sopan, lalu menyesap kopi, seolah semua baik-baik saja.
Padahal aku tahu ceritanya tidak sesederhana itu. Ia pernah berusaha. Dikenalkan ke sana-sini, mencoba membuka diri, menurunkan banyak standar yang dulu dianggap penting. Ada hubungan yang bertahan beberapa bulan, ada yang putus sebelum sempat disebut pacaran. Bukan karena drama besar, tapi karena arah hidup yang tak bertemu. Ada yang ingin cepat menikah, ada yang ingin bebas. Ada yang ingin tinggal dekat orang tua, ada yang ingin pergi jauh. Semua terasa masuk akal, tapi tak pernah cukup untuk melangkah bersama.
Di lingkungannya, menikah sering dianggap garis akhir yang harus dicapai. Seolah hidup adalah lomba, dan yang belum sampai dianggap tertinggal. Ia sering jadi bahan perbandingan: dengan adik yang sudah menikah, dengan teman sekolah yang anaknya sudah dua. Tidak ada yang benar-benar berniat jahat, tapi tekanan itu nyata. Ia merasakannya di meja makan keluarga, di acara hajatan, bahkan di obrolan santai.
Namun dari dekat, aku melihat sisi lain hidupnya. Ia bekerja dengan tekun, merawat orang tuanya, punya lingkar pertemanan yang hangat. Ia tahu caranya sendirian tanpa merasa sepi. Ia bisa pulang ke rumah tanpa perlu berpura-pura bahagia di depan pasangan yang salah. Ia pernah berkata pelan, “Menikah itu pilihan. Dan aku tidak mau menjadikannya pelarian dari takut sendirian.”
Dari cerita orang-orang di sekitarnya, ia juga belajar. Ada teman yang menikah cepat lalu menyesal. Ada yang bertahan dalam hubungan dingin karena takut stigma janda atau duda. Ada pula yang terlihat sempurna di luar, tapi lelah di dalam. Semua itu membuatnya paham: menikah tidak otomatis menyelesaikan hidup, sama seperti tidak menikah tidak otomatis merusaknya.
Ia tidak menutup kemungkinan menikah suatu hari nanti. Ia hanya tidak ingin memaksakan. Baginya, usaha sudah dilakukan, doa sudah dijalani, kejujuran pada diri sendiri sudah diupayakan. Jika hasilnya belum sampai ke pernikahan, itu bukan kegagalan, hanya kenyataan.
Kini, di usia yang sering disebut rawan, ia belajar berdamai. Bukan dengan menyerah, tapi dengan menerima. Ia menjalani hari-harinya tanpa menunggu hidup dimulai setelah menikah. Ia hidup sekarang, dengan segala keterbatasan dan kebebasannya.
Dan dari dirinya, aku belajar satu hal sederhana: kadang yang perlu kita lakukan bukan mengubah keadaan, tapi memahami bahwa setiap orang punya waktu dan jalan yang tidak bisa diseragamkan.
Komentar
Posting Komentar