Langsung ke konten utama

Menyesal dan Buang-Buang Waktu

Setiap penyesalan yang selalu muncul di belakangan, kalau bisa jangan melakukannya, namun sebab ini sudah terlanjur, biarkan jadi pelajaran dan jangan sampai terulang lagi di masa yang akan datang.

Dalam penyesalan ada perasaan membuang-buang waktu oleh karena melakukan tindakan yang tidak berguna, padahal pada waktu dulu yang dilakukan seolah berguna untuk dilakukan.

Baru setelah menyadarinya, dari perasaan menyesal dan ingin menghentikan waktu kemudian membalikannya ke masa lalu. Kalau bisa jangan sampai melakukan tindakan tidak berguna yang membuang-buang waktu ini.

Cara kehidupan mendewasakan manusia dengan memberikan serangkaian penyesalan. Sekali penyesalan, diulang lagi diberikan dua kali penyesalan, diulang lagi diberikan yang ketiga kalinya. Ini semua agar kita mau belajar dari kesalahan yang muncul melalui jalur penyesalan.

Kalau direnungkan kembali penyesalan ini seperti alarm dalam diri supaya kita mau peka dan sadar terhadap kesalahan hidup. Sehingga di kemudian hari kita menjadi orang yang lebih baik lagi, lebih hati-hati dan waspada terhadap peristiwa apapun.

Dengan mengambil pelajaran, kita tidak lagi mengulangi kesalahan dan tentu penyesalan tidak akan terulang kembali. Kita simpan yang namanya penyesalan di masa lalu dan saat ini menjadi jejak kehidupan yang kita ketahui agar jangan sampai mengulanginya dan ini kita pegang teguh sebagai guru terbaik yang mengajarkan kita kebijaksanaan hidup.

Kehidupan memberikan kita serangkaian masalah, kesalahan dan penyesalan selama di waktu tersebut kita membutuhkan pelajaran yang belum kunjung selesai atau tuntas. Contohnya kita mendapatkan masalah percintaan, sering patah hati oleh kekasih. Selama kita tidak belajar pola berulang itu selalu hadir dan penyesalan sebagai hasil akhir yang kita dapatkan.

Kebiasaan dari penyesalan adalah kita terlalu sering menyalahkan diri sendiri. Kita terus menerus sedih dan kecewa dengan diri sendiri yang mengambil keputusan yang salah di masa lalu. Pertanyaan mengapa dan loh kok bisa saya seperti itu muncul untuk mempertanyakan kesalahan diri sendiri dan menghukum diri yang tidak becus menghadapi masalah tersebut dengan baik.

Sekarang biarkan penyesalan itu hadir dan pada saat yang sama kita harus punya tindakan yang tepat supaya jangan sampai mengulang kesalahan dan juga jangan biarkan penyesalan datang yang ke sekian kalinya.

Sebisa mungkin penyesalan cukup datang sekali dan selebihnya kita banyak mengambil pelajaran hidup, bijaksana dan tepat dalam memilih keputusan, serta bertindak dengan benar.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...