Langsung ke konten utama

Sisa-Sisa Kenangan

Betapa sering saya dan mungkin juga teman-teman yang membaca tulisan ini menyimpan beberapa kenangan yang tersimpan kuat di dalam pikiran dan perasaannya. Benar kenangan tersebut tidak dapat hilang atau dilupakan, ia akan tersimpan dalam ingatan pendek ataupun panjang. Biasanya kenangan yang memiliki ikatan perasaan yang kuat akan lebih panjang di simpan dalam ingatan.

Sedangkan kenangan yang biasa saja, dimana perasaan tidak terlibat kuat mengikat kenangan tersebut maka ingatan menyimpannya dalam jangka pendek atau sebentar. Jadi jika ada yang menginginkan melupakan sebuah kenangan, apalagi yang punya ikatan kuat di dalam perasaan, itu jelas hal yang sulit. Kita tidak bisa melupakannya, yang bisa kita lakukan adalah membiasakan diri dengan ingatan tersebut sehingga respon kita dapat biasa saja tanpa disertai emosi yang meluap-luap sampai membuat trauma, sakit hati, panik dan sejenisnya.

Mengenai kenangan indah tentu kita akan menyimpannya dalam jangka waktu yang lama sekalipun tidak apa-apa, sebab kita menikmati setiap memanggil kenangan tersebut atau tetiba ingat begitu saja, respon kita adalah mengenangnya sebagai sebuah cerita masa lalu yang dikenang dengan segala keindahan yang menyertainya.

Kita menginginkan sisa-sisa kenangan buruk yang juga bisa dirasakan biasa saja, sehingga tidak apa-apa mengingatnya. Kita mampu belajar dari kenangan yang tersisa tersebut agar tidak lagi mengulanginya dan lebih mampu mengatasi masalah karena sudah punya pengalaman di masa lalu.

Dikatakan sisa-sisa kenangan karena tidak semua kenangan yang masih tersimpan, hanya berisi beberapa cuplikan gambar atau film yang masih diingat, yang mana kenangan tersebut terasa menyakitkan apabila diingat kembali. Saya seperti menjadi aktor dalam gambar atau film yang terjadi dalam pikiran yang saya ciptakan sendiri. Kondisinya ada di masa lalu, namun sakitnya masih kita simpan dan seolah kita pelihara sampai saat ini.

Padahal kalau saja kita memahami cara kerja dari pikiran yakni pikiran atau perasaan tidak bisa kita tekan dan dilupakan, yang bisa kita lakukan adalah membiarkan itu semua ada dan terjadi, kemudian kita amati, nikmati dan jalani sebagai orang yang menonton film yang ada di alam pikiran kita sendiri. Nantinya semua perasaan itu berlalu dengan sendirinya, berganti dengan yang lain dan pundar perlahan-lahan.

Kita ikuti apa maunya pikiran, jangan ditahan atau ditekan untuk dihilangkan dan dipendam, latih diri kita untuk melepaskannya di samping kita mengamatinya terus sebagai proses untuk membiasakan diri dengan semua perasaan yang kita anggap sebagai musuh.

Sampai kita merasakan bahwa semua hal yang muncul dalam pikiran dan perasaan kita adalah teman yang bisa kita temani sambil minum kopi. Kita menikmati seduhan kopi yang di waktu bersamaan kita sedang berhadapan dengan semua perasaan yang kita anggap tidak menyenangkan.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...