Langsung ke konten utama

Tuma'ninah Seorang Komentator Politik

Sebenarnya kekisruhan dalam politik ini terjadi karena semuanya menjadi komentator politik, bukan karena sebagai politikus itu sendiri. Mereka ribut, marah, kesal sebagai komentator politik. Seperti halnya komentator bola, mereka gaduh dan seru sendiri padahal tidak sedang bermain sepak bola. Just comment! Mending kalau berkomentar sopan, ini malah ribut dengan menggunakan kata kata kasar, bermusuhan, berkelahi, ngotot. Jelas jelas tidak akan pernah menyelesaikan masalah perpolitikan di Indonesia. Lha wong bukan praktisi politik, ngomongin politik. Gak nyambung! Yang di cari bukan solusi, namun debat kusir yang sarat dengan ego dan emosi.

Tuma'ninah atau jeda sejenak ketika menjadi komentator politik adalah cara untuk memberi jarak kepada masalah politik yang ada. Jarak ini berguna untuk melihat dari luar dan mengamati sang aku dan perpolitikan yang ada. Proses ini akan menghentikan sejenak pikiran yang liar dan nakal untuk emosional menjadi komentator politik. Sehingga tersadar, porsi berkomentar tentang politik yang sewajarnya dan tetap kalem.

Serang, 16022017
Roby Martin

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...