Langsung ke konten utama

Siapa Aku?

Suatu hari aku duduk sendirian setelah semua kesibukan selesai. Tidak ada percakapan, tidak ada pekerjaan yang harus dikejar. Hanya ada aku dan pikiranku sendiri. Di tengah keheningan itu tiba-tiba muncul perasaan aneh: selama ini aku merasa mengenal diriku, tetapi apakah aku benar-benar pernah melihat diriku sendiri?

Sejak kecil aku membawa banyak cerita tentang diriku. Ada suara-suara yang pernah berkata bahwa aku orang yang begini, bahwa aku tidak cukup begitu, bahwa aku seharusnya menjadi seperti itu. Tanpa sadar semua kata itu menempel seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun aku pergi. Ketika aku memikirkan diriku, yang muncul bukan diriku yang hidup saat ini, melainkan kumpulan cerita lama yang tersimpan di dalam kepala.

Kadang aku membayangkan diriku sebagai seseorang yang kuat, kadang sebagai seseorang yang rapuh. Kadang aku merasa diriku baik, kadang merasa penuh kekurangan. Semua gambaran itu datang silih berganti seperti awan yang bergerak di langit. Anehnya, aku mempercayai semua itu. Aku hidup seolah-olah gambaran itu benar-benar diriku.

Padahal jika dilihat dengan jujur, semua itu hanya bayangan pikiran. Pikiran suka menyusun cerita. Ia mengingat kejadian lama, lalu membuat kesimpulan. Dari satu pengalaman kecil lahir keyakinan tentang siapa diri kita. Lalu keyakinan itu kita jaga seperti benda berharga. Kita marah jika ada yang mengguncangnya, kita takut jika ia runtuh.

Namun suatu saat aku menyadari sesuatu yang sederhana. Setiap kali aku mencoba melihat diriku, selalu ada suara dalam kepala yang lebih dulu berbicara. Ia menilai, ia menjelaskan, ia membandingkan. Suara itu begitu cepat sehingga aku hampir tidak pernah melihat diriku tanpa perantara.

Aku mulai bertanya dalam hati: bagaimana jika semua kesimpulan itu diletakkan sebentar? Bagaimana jika aku berhenti memberi nama pada apa yang kurasakan?

Di saat-saat seperti itu muncul keheningan yang aneh namun jujur. Ketika tidak ada usaha untuk menjadi seseorang, ketika tidak ada cerita yang harus dipertahankan, sesuatu terasa lebih ringan. Perasaan datang dan pergi tanpa harus dijelaskan. Pikiran bergerak, lalu berlalu seperti angin yang lewat.

Mungkin selama ini aku tidak pernah benar-benar melihat diriku karena terlalu sibuk dengan gambaran tentang diriku. Aku lebih mengenal cerita daripada kenyataan. Lebih percaya bayangan daripada apa yang sedang terjadi sekarang.

Melihat diri sendiri ternyata membutuhkan keberanian yang sederhana: keberanian untuk tidak bersembunyi di balik kesimpulan. Keberanian untuk mengakui bahwa mungkin kita tidak tahu siapa diri kita.

Aneh sekali, justru ketika semua definisi itu mulai mengendur, hidup terasa lebih dekat. Seperti membuka jendela yang lama tertutup. Udara masuk perlahan. Tidak ada yang istimewa, tidak ada pengalaman besar. Hanya ada kehadiran yang jujur.

Dan mungkin di sanalah awal dari benar-benar melihat diri sendiri: ketika kita berhenti mengejar gambaran tentang siapa kita, dan mulai diam cukup lama untuk merasakan kehidupan yang sedang terjadi di dalam diri.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...