Suatu hari aku duduk sendirian setelah semua kesibukan selesai. Tidak ada percakapan, tidak ada pekerjaan yang harus dikejar. Hanya ada aku dan pikiranku sendiri. Di tengah keheningan itu tiba-tiba muncul perasaan aneh: selama ini aku merasa mengenal diriku, tetapi apakah aku benar-benar pernah melihat diriku sendiri?
Sejak kecil aku membawa banyak cerita tentang diriku. Ada suara-suara yang pernah berkata bahwa aku orang yang begini, bahwa aku tidak cukup begitu, bahwa aku seharusnya menjadi seperti itu. Tanpa sadar semua kata itu menempel seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun aku pergi. Ketika aku memikirkan diriku, yang muncul bukan diriku yang hidup saat ini, melainkan kumpulan cerita lama yang tersimpan di dalam kepala.
Kadang aku membayangkan diriku sebagai seseorang yang kuat, kadang sebagai seseorang yang rapuh. Kadang aku merasa diriku baik, kadang merasa penuh kekurangan. Semua gambaran itu datang silih berganti seperti awan yang bergerak di langit. Anehnya, aku mempercayai semua itu. Aku hidup seolah-olah gambaran itu benar-benar diriku.
Padahal jika dilihat dengan jujur, semua itu hanya bayangan pikiran. Pikiran suka menyusun cerita. Ia mengingat kejadian lama, lalu membuat kesimpulan. Dari satu pengalaman kecil lahir keyakinan tentang siapa diri kita. Lalu keyakinan itu kita jaga seperti benda berharga. Kita marah jika ada yang mengguncangnya, kita takut jika ia runtuh.
Namun suatu saat aku menyadari sesuatu yang sederhana. Setiap kali aku mencoba melihat diriku, selalu ada suara dalam kepala yang lebih dulu berbicara. Ia menilai, ia menjelaskan, ia membandingkan. Suara itu begitu cepat sehingga aku hampir tidak pernah melihat diriku tanpa perantara.
Aku mulai bertanya dalam hati: bagaimana jika semua kesimpulan itu diletakkan sebentar? Bagaimana jika aku berhenti memberi nama pada apa yang kurasakan?
Di saat-saat seperti itu muncul keheningan yang aneh namun jujur. Ketika tidak ada usaha untuk menjadi seseorang, ketika tidak ada cerita yang harus dipertahankan, sesuatu terasa lebih ringan. Perasaan datang dan pergi tanpa harus dijelaskan. Pikiran bergerak, lalu berlalu seperti angin yang lewat.
Mungkin selama ini aku tidak pernah benar-benar melihat diriku karena terlalu sibuk dengan gambaran tentang diriku. Aku lebih mengenal cerita daripada kenyataan. Lebih percaya bayangan daripada apa yang sedang terjadi sekarang.
Melihat diri sendiri ternyata membutuhkan keberanian yang sederhana: keberanian untuk tidak bersembunyi di balik kesimpulan. Keberanian untuk mengakui bahwa mungkin kita tidak tahu siapa diri kita.
Aneh sekali, justru ketika semua definisi itu mulai mengendur, hidup terasa lebih dekat. Seperti membuka jendela yang lama tertutup. Udara masuk perlahan. Tidak ada yang istimewa, tidak ada pengalaman besar. Hanya ada kehadiran yang jujur.
Dan mungkin di sanalah awal dari benar-benar melihat diri sendiri: ketika kita berhenti mengejar gambaran tentang siapa kita, dan mulai diam cukup lama untuk merasakan kehidupan yang sedang terjadi di dalam diri.
Komentar
Posting Komentar