Langsung ke konten utama

Shalat Jumat Diam-Diam karena Takut Ketahuan Anggota Jemaat

“Masih ingat dulu gue sering hilang tiap Jumat?”

Ia tertawa kecil sambil mengaduk kopi di depannya. Wajahnya tidak banyak berubah—tetap hangat, tetap mudah akrab—hanya ada ketenangan yang dulu tidak saya lihat. Kami duduk di sudut kafe, setelah sekian tahun tidak bertemu. Percakapan langsung melompat ke masa lalu, seolah waktu hanya berhenti sebentar.

Saya tersenyum, lalu mengangguk pelan. Dulu saya memang sering heran. Di tengah jadwal kampus yang padat, ia kadang menghilang tanpa banyak penjelasan. Tidak selalu, tapi cukup sering. Saya tidak pernah benar-benar bertanya, hanya menganggap itu hal biasa—urusan pribadi yang tidak perlu dicampuri.

“Dulu gue salat Jumat diam-diam,” katanya pelan. “Takut ketahuan teman-teman kampus… apalagi yang sesama jemaat.”

Ia mengatakannya tanpa ragu, tapi ada jejak masa lalu yang terasa dalam nada suaranya. Saya membayangkan dirinya di masa itu—berjalan sendiri, mungkin dengan langkah yang setengah yakin, setengah takut. Kampus yang dulu terasa bebas ternyata tetap punya batas yang tak terlihat.

“Bukan karena gue benci sama yang lama,” lanjutnya. “Cuma… ada rasa penasaran. Ada yang kayak manggil, tapi gue sendiri juga bingung waktu itu.”

Saya terdiam sejenak. Kalimat itu sederhana, tapi terasa jujur. Bukan cerita tentang perubahan besar, melainkan tentang kegelisahan kecil yang dipelihara diam-diam.

“Gue sering buru-buru balik juga,” katanya sambil tertawa kecil. “Biar nggak ditanya macam-macam.”

Saya ikut tertawa, meski dalam hati ada rasa lain yang muncul—semacam pemahaman yang datang terlambat. Dulu saya tidak pernah melihat sisi itu. Kami lebih sering membicarakan hal-hal ringan: tentang hubungan yang kami jalani waktu itu, tentang kenakalan kecil yang terasa besar di usia muda, tentang rencana hidup yang sekarang terdengar jauh.

“Dulu kita sok tahu banget ya,” katanya lagi. “Ngerasa hidup ini cuma soal senang-senang.”

Saya mengangguk. Ada bagian dari ucapan itu yang terasa benar, tapi juga terasa seperti cerita dari orang lain. Kami sama-sama berubah, hanya saja dengan cara yang tidak kami sadari saat itu.

Ia kemudian bercerita lebih jauh, tapi tetap dengan cara yang ringan. Tidak ada kesan ingin meyakinkan, tidak ada nada menggurui. Hanya rangkaian pengalaman yang pelan-pelan membentuk dirinya. Tentang ragu yang datang tanpa alasan jelas, tentang langkah kecil yang diambil sendiri, tentang keputusan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Yang menarik, ia tidak menjadi orang yang sepenuhnya berbeda. Cara bicaranya masih santai, tawanya masih sama, bahkan cara ia mengingat masa lalu tetap hangat. Ia tidak menolak siapa dirinya dulu, juga tidak berusaha terlihat lebih benar dari orang lain.

Kami kembali membicarakan masa kampus. Tentang betapa seringnya kami menunda tugas, tentang hubungan yang dulu terasa serius tapi ternyata tidak bertahan, tentang keputusan-keputusan yang sekarang terasa lucu. Tidak ada penyesalan yang berlebihan, hanya semacam penerimaan bahwa semua itu bagian dari perjalanan.

Saya menyadari sesuatu saat melihatnya. Perubahan tidak selalu datang dengan suara besar. Kadang ia tumbuh pelan, bahkan sembunyi-sembunyi, seperti keputusan-keputusan kecil yang dulu ia ambil tanpa banyak orang tahu.

Di akhir pertemuan, kami tidak membicarakan hal-hal besar. Tidak ada perdebatan, tidak ada upaya saling meyakinkan. Hanya dua orang yang pernah berjalan bersama di satu masa, lalu bertemu lagi dengan cerita yang berbeda.

Saat kami berpisah, ada perasaan hangat yang tertinggal. Bukan karena ia telah berubah, tetapi karena di tengah perubahan itu, ia tetap bisa menjadi dirinya yang dulu saya kenal—ramah, terbuka, dan jujur.

Dan mungkin di situlah letak yang paling sederhana: bahwa perjalanan hidup bisa membawa seseorang ke arah yang tak terduga, bahkan melalui langkah-langkah kecil yang dulu dilakukan diam-diam.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...