Langsung ke konten utama

Pembangkit Kebiasaan baru

Kebiasaan adalah masa lalu (Timothy Galleway)
Kumpulan masa lalu Anda menciptakan kebiasaan (habit) dalam diri Anda. Untuk mengubah kebiasaan butuh waktu lama dengan mengkonversinya menjadi kebiasaan baru yang baik dan membaikkan.

Banyak orang yang ingin merubah dirinya untuk menumbuhkan kebiasaan dirinya dengan mengikuti ‘Training Motivasi’, Seminar, Workshop, dan lain sebagainya namun tak mengubah drinya sedikit pun. Kalau pun berubah hanya hitungan 3 atau paling lama seminggu seusai mengkuti acara-acara yang menggugah motivasi. Sayangnya, sifatnya hanya sementara.

Bagaimana caranya utnuk menumbuhkan kebiasaan baru?

Ketahuilah,
“Lebih gampang membentuk kebiasaan baru daripada mengubah kebiasaan lama”
(inner game of tennis, Timothy Galleway)
Jelas lah bahwa, perubahan diri itu lebih gampang dengan membentuk kebiasaan baru.
Seringkali kita bertanya dalam diri atau kepada orang lain.,
Kenapa saya belum berubah?
Kenapa saya malas?
Kenapa saya bodoh?
Pertanyaan ini terfokus kepada kelemahan atau kebiasaan buruk yang kita lakukan dan efeknya adalah perubahan diri tak kunjung hadir dalam diri. Pertanyaan itu pun tidak pernah dijawab dengan semangat perubahan, lebih kepada ucapan keluhan dan dan hinaan terhadap diri sendiri.

Ingatlah,bahwa:
Apa yang membentuk Anda di masa depan adalah apa yang anda lakukan hari ini.
Jadi kalau begitu, pada saat anda malas daripada anda bertanya “kenapa ya saya malas?” Apakah tidak lebih baik anda langsung melakukan tindakan yang anda inginkan? Menjadi rajin?

Apakah sesimpel itu?
Yes apabila kita mau membuatnya simple dan yakin pada diri anda dan keinginan anda, No apabila kita tidak meyakininya dan membiarkan diri anda mendengar diri anda yang malas..

#Teknik Pembangkit Kebiasaan Baru#

So.. Mulai sekarang CATAT Kebiasaan baru yang ingin anda bentuk dan LAKUKAN apa yang perlu dilakukan dan jadikan itu menjadi kebiasaan lama anda yang anda akan puas karena nya.
Perlu waktu? Well anda membentuk kebiasaan lama anda bertahun-tahun.. menurut anda berapa waktu yang anda butuhkan untuk membuat kebiasaan baru anda menjadi kebiasaan lama?

Contoh:
Kebiasaan baru yang ingin saya bentuk: (apa?)
Tindakan apa yang perlu saya lakukan? (jabarkan)
Kapan saya mau start melakukannya?
Berapa lama yang saya yakini pada saat saya bisa melakukan itu terus menerus membuat saya yakin bahwa kebiasaan baru itu sudah menjadi bagian dari diri saya?
Kemudian..
Visualisasikan gambarnya (bagaimana anda melakukannya)
Lakukan
Lakukan terus sampai itu menjadi kebiasaan lama anda
(Jangan memberi label negatif pada saat anda belum bisa membentuknya)
Karena berhenti TIDAK membuat anda sampai.

Referensi:
New Habit, Wahyudi Akbar (www.coachwahyudi.com)

Serang, 26 Oktober 2011
Roby Martin

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...