Langsung ke konten utama

Manusia Tidak Sedang Diuji Tuhan

Jika kita lahir miskin, sulit makan, gagal menikah, atau berkali-kali ditolak kerja, apa artinya? Mayoritas orang akan bilang, “Kamu sedang diuji oleh Tuhan.” Bahkan ketika seorang anak kecil lahir cacat atau meninggal mendadak, tetap saja narasinya sama: “Tuhan sedang menguji keluarga ini.” Tapi benarkah Tuhan itu seperti guru SD yang gemar menguji murid-muridnya dengan soal-soal hidup paling menyakitkan?

Yuval Noah Harari dalam Sapiens menjelaskan bahwa manusia bertahan hidup bukan karena ia tahu arti hidup, melainkan karena ia pandai bercerita. Agama adalah salah satu cerita terhebat dalam sejarah umat manusia. Dan dalam cerita itu, Tuhan sering ditempatkan sebagai penentu segalanya, termasuk ujian yang tak masuk akal. Tapi Harari juga menegaskan, kisah besar seperti agama bisa jadi hanya alat manusia untuk bertahan dari kekacauan eksistensi.

Albert Camus, filsuf eksistensialis Prancis, pernah menulis dalam The Myth of Sisyphus: hidup ini absurd, dan upaya manusia mencari makna dalam penderitaan justru memperlihatkan absurditas itu. Camus tidak percaya bahwa penderitaan adalah ujian dari langit. Ia percaya bahwa kita harus berdamai dengan absurditas hidup, bukan melarikan diri ke dalam imajinasi tentang "ujian Tuhan".

Lalu Tan Malaka dalam Madilog secara tegas menolak segala bentuk “kepercayaan buta” yang tidak bisa diuji oleh logika atau sains. Ia menolak konsep yang menyandarkan penderitaan pada kehendak Tuhan. Bagi Tan, derita sosial, kemiskinan, dan ketimpangan adalah hasil sistem. Bukan karena Tuhan sedang menguji, tapi karena manusia diam dalam penindasan.

Sekarang mari kita tarik ke kasus sehari-hari.

Misal, ada ibu rumah tangga yang kehilangan anaknya karena kecelakaan. Orang-orang bilang: “Sabar, ini ujian.” Tapi ucapan itu bukan penghiburan, melainkan pelarian. Ujian dari siapa? Untuk apa? Dan apa yang bisa dipetik dari kehilangan seorang anak jika yang tersisa hanya trauma?

Contoh lain, seorang pekerja honorer bertahun-tahun hidup pas-pasan. Dia tetap rajin salat, tetap bersedekah, tetap berdoa. Tapi tak ada perubahan berarti dalam hidupnya. Bukankah kalau ini ujian, mestinya ada titik kelulusan? Tapi hidup bukan soal kelulusan. Hidup adalah realitas penuh ketidakseimbangan. Ketika kita bilang “ini ujian dari Tuhan”, sebenarnya kita sedang membuat kisah penghiburan agar tidak terlalu kecewa pada kenyataan.

Nietzsche bahkan lebih radikal. Ia menyatakan bahwa Tuhan sudah mati. Bukan secara literal, tapi secara kultural. Manusia modern tak lagi hidup berdasarkan kehendak Tuhan, tapi tunduk pada kehendak sistem, kapitalisme, dan ego kolektif. Maka penderitaan bukan datang dari Tuhan, tapi dari dunia yang kita bentuk sendiri dengan mesin, uang, dan kebohongan.

Maka tak ada yang namanya “ujian”. Yang ada adalah kehidupan, dengan semua ketidakpastian dan kekacauannya. Kita bukan sedang diuji oleh Tuhan, kita hanya sedang hidup di dunia yang memang tidak adil sejak lama.

Kalau pun kita percaya pada Tuhan, biarlah Tuhan itu menjadi misteri yang tidak perlu diberi label ujian atau hukuman. Jangan tempatkan Tuhan sebagai penguasa soal ujian yang kejam. Jika Tuhan memang Maha Pengasih, kenapa harus menguji dengan cara yang menyakitkan?

Yang perlu kita lakukan bukan bertanya "Mengapa aku diuji?", tapi bertanya "Apa yang bisa kulakukan sekarang?". Jika kita miskin, bukan berarti Tuhan menguji kita. Bisa jadi sistem ekonomi yang bobrok. Kalau kita gagal menikah, bukan karena ujian, tapi karena tak semua orang cocok atau siap. Kalau kita gagal, bukan berarti Tuhan sedang mengetes, tapi karena hidup itu tentang mencoba dan gagal.

Jadi, berhentilah menganggap semua penderitaan sebagai ujian. Itu hanya akan membuat kita diam, pasrah, dan tidak melawan realitas yang tidak adil. Bukankah lebih sehat jika kita mengakui bahwa hidup memang kadang brengsek, dan kita harus belajar bertahan, bukan terus mencari "hikmah tersembunyi"?

Tuhan, jika ia ada, tak sedang duduk di atas langit sambil menandai siapa yang lulus atau tidak. Tuhan mungkin hanya diam, menonton kita menyusun ulang hidup dari reruntuhan logika dan luka. Dan dalam keheningan itu, kita belajar bahwa hidup bukan ujian. Ia cuma kejadian.


Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...